Ekonomi

Beli Minyak Goreng Curah Pakai NIK dan PeduliLindungi, Said Didu: Pura-Pura Subsidi Tapi Cuma Bikin Susah Rakyat Bawah!

Said Didu: Jadi ini seperti orang yang purapura niat baik, tapi gamau terlaksana. Jatuhnya mekanismenya seakan-akan mau nolong tapi malah ngga menolong.


Beli Minyak Goreng Curah Pakai NIK dan PeduliLindungi, Said Didu: Pura-Pura Subsidi Tapi Cuma Bikin Susah Rakyat Bawah!
Mantan Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Said Didu mengatakan bahwa penggunaan aplikasi Peduli Lindungi dan KTP hanya makin menyulitkan rakyat bawah saja. (Facebook/ Muhammad Said Didu)

AKURAT.CO, Pengamat perekonomian sekaligus mantan Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Said Didu mengatakan bahwa penggunaan aplikasi Peduli Lindungi dan KTP hanya makin menyulitkan rakyat bawah saja.

"Beli minyak goreng curah harus pake peduli lindungi. Beli BBM subsidi harus mendaftar on line. Maka : Jika mau "hidup", rakyat harus beli hp dan beli pulsa. Rakyat kok makin dipersulit ?," cuit Said Didu di jejaring sosial media Twitter.

Akurat.co kemudian mencoba menghubungi Said Didu, dan kemudian meminta tanggapannya lebih lanjut mengenai pemakaian PeduliLindungi.

Said mengakui bahwa dirinya sempat kebingungan pada awal penetapan aplikasi PeduliLindungi untuk pembelian minyak goreng curah dengan metode scan barcode ini yang layaknya masuk keluar perjalanan dan tracing covid-19.

"Yang paling membingungkan, apa kaitannya? PeduliLindungi kan buat tracing covid-19. Habis ini jangan-jangan kalau mau beli minyak goreng juga harus vaksin booster juga lagi," jelasnya ketika dihubungi oleh Akurat.co, Selasa (28/6/2022)

Kemudian, Said juga mengakui bila dirinya juga tak habis pikir soal mekanisme tersebut yang mana tidak semua orang di Indonesia itu mampu untuk mempunyai akses smartphone.

"Ini sangat lucu sebenarnya, minyak goreng dan BBM, mekanisme dan kriterianya harus punya hp, dan punya pulsa, bisa menggunakan hp, itu mekanismenya saja sudah sulit untuk yang tidak mampu," kata Said.

Kemudian, Said juga memberikan pendapatnya mengenai bahwa subsidi minyak goreng harusnya secara keseluruhan di subsidi, mengingat pencapaian keuntungan yang didapat pemerintah yang mencapai Rp 200 T dalam bentuk ekspor sekaligus dengan perhitungan bea masuk yang didapat.

"Kenapa saya bilang begitu? Karena subsidi migor itu cuman Rp17 triliun sampai dengan Rp 25 triliun dalam setahun, itu kalau dipakai untuk rakyat banyak sangat bermanfaat sekali," jelas Said.