News

Belajar dari India, Indonesia Kudu Lakukan 5 Hal Ini Hadapi Lonjakan COVID-19

pemerintah perlu memastikan jumlah tes tak hanya terpusat di beberapa provinsi.


Belajar dari India, Indonesia Kudu Lakukan 5 Hal Ini Hadapi Lonjakan COVID-19
Petugas kesehatan melakukan swab test antigen kepada supir bus dan penumpang di Terminal Kalideres, Jakarta Barat, Senin (25/1/2021). (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Jumlah kasus COVID-19 di Indonesia kembali mengkhawatirkan. Lonjakan pasien yang terinfeksi virus tersebut meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Bila sebelumnya jumlah kasus positif harian masih ribuan, kini jumlahnya sudah tembus belasan ribu, sama seperti awal tahun.

Bahkan, Ibu Pertiwi mencetak dua rekor tertinggi sejak Januari 2021 pada dua hari terakhir. Pada Kamis (17/6) misalnya, jumlah pertambahan jumlah kasus positif mencapai 12.624 kasus. Angkanya pun kembali naik lagi menjadi 12.990 kasus pada Jumat (18/6) kemarin. Totalnya, ada 1,95 juta kasus positif di tanah air per kemarin.

Lonjakan kasus ini membuat sejumlah pihak mendesak Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) untuk memberlakukan lockdown. Sebab, Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro dianggap tak cukup.

Guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Tjandra Yoga Aditama mendorong agar Indonesia belajar dari kenaikan kasus di India. Ia mengusulkan lima opsi yang harus diambil pemerintah guna menekan lonjakan COVID-19 yang kian hari kian mengkhawatirkan.

Tjandra mengatakan, usulan pertama yakni peningkatan pembatasan sosial, kedua peningkatkan testing, tracking dan treatment. Ketiga, lanjut Tjandra, peningkatan rumah sakit dan pelayanan kesehatan primer, keempat kelengkapan data, kelima vaksinasi.

"Pada waktu itu analisis, alasan yang ini kami pakai jadi patokan supaya kita jangan kena hal yang sama (dengan India)," ujar Tjandra dalam diskusi Perspektif Indonesia dengan tema 'Menyiasati Lonjakan COVID-19', secara vitrual, Sabtu (19/6/2021).

Menurut Tjandra, kenaikan kasus COVID-19 di India dikarenakan beberapa hal. Seperti dibukanya kembali sejumlah fasilitas publik.

Kemudian penyebab kedua, lanjut Tjandra, yakni kerumunan masyarakat di mana-mana. Seperti, pemilihan kepala daerah (Pilkada), acara keagamaan, hingga acara pernikahan diizinkan.

“Kalau lihat film Bollywood bisa dibayangkan keramaiannya seperti apa. Seharusnya ada pembatasan sosial,” ungkap Mantan Direktur Penanggulangan Penyakit Menular Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Asia Tenggara itu.

Erizky Bagus

https://akurat.co