News

Bejat! Istri Sakit Kanker, Pria di Singapura Malah Cabuli Anak Kandung

Ia dijatuhi hukuman penjara 24 tahun dan hukuman cambuk maksimal 24 kali.


Bejat! Istri Sakit Kanker, Pria di Singapura Malah Cabuli Anak Kandung
Gambar hanya untuk ilustrasi (Vermont Central Press Syndicate)

AKURAT.CO Seorang pria di Singapura tega menggauli anak kandungnya sendiri. Aksi tak senonoh ini bahkan dilakukan pelaku saat istrinya tengah menjalani perawatan karena kanker.

Pelaku, yang berusia 44 tahun itu pun akhirnya diseret ke pengadilan. Pada Senin (8/8), ia dijatuhi hukuman penjara 24 tahun dan hukuman cambuk maksimal 24 kali.

Sementara istrinya, yang menderita limfoma atau kanker getah bening, dilaporkan telah meninggal.

baca juga:

Identitas korban, yang saat pertama kali diperkosa masih berusia 14 tahun, telah dilindungi. Terdakwa juga tidak dapat disebutkan namanya karena dia adalah ayah kandung korban.

Sebagaimana diwartakan Asia One hingga CNA, pelaku telah mengaku bersalah atas tiga tuduhan pemerkosaan. Delapan dakwaan lainnya, termasuk tuduhan pemerkosaan, penganiayaan, dan untuk penyerangan seksual melalui penetrasi, juga telah menjadi pertimbangan selama putusan hukuman.

Korban pura-pura tertidur

Pengadilan mendengar bahwa pria itu pertama kali melecehkan putrinya secara seksual pada Mei 2019, dan aksinya berlanjut selama beberapa bulan.

Salah satu kronologi pelecehan terjadi pada Oktober 2019, ketika anggota keluarga lainnya tertidur, sementara pelaku menyelinap ke kamar tidur korban. Pada saat itu, pelaku langsung melecehkan korban, kemudian memerkosa gadis itu.

Selama peristiwa itu, korban berpura-pura tidur. Sedangkan adiknya tidur di kasur sebelahnya.

Pada malam lain di bulan November 2019, korban kembali mendapatkan pelecehan seksual dari pelaku, yang kemudian diulangi lagi pada dini hari tanggal 2 Desember 2019. Korban pun berpura-pura tidur setiap kali menerima pelecehan dari ayahnya tersebut.

Namun, pada kesempatan terakhir itu, aksi bejat pelaku akhirnya terbongkar. Waktu itu, ibu si gadis memasuki kamar tidur korban beberapa saat setelah penyerangan.

Wanita itu lantas melihat suaminya berlutut di samping tempat tidur korban dalam kondisi telanjang dari pinggang ke bawah. Geram, ia pun langsung memukul pelaku, bertanya bagaimana dia bisa melakukan hal keji seperti itu.

Di tengah situasi itu, korban mulai menangis. Begitu pula adiknya yang terbangun dari keributan. Pelaku yang ketangkap basah, akhirnya meminta maaf kepada istrinya dan meninggalkan kamar tidur.

Pada awalnya, korban enggan melaporkan pelecehan. Ini lantaran ia melihat bahwa keluarganya secara finansial bergantung pada ayahnya, terutama setelah ibunya mulai menerima perawatan kanker.

Korban tidak ingin membuat ibunya marah atau khawatir selama perawatannya, kata Wakil Jaksa Penuntut Umum Shen Wanqin dan Benjamin Samynathan.

Selain itu, korban juga takut pada ayahnya, karenanya dia tidak mencoba melawan, kata jaksa.

Setelah kejadian itu, ibu korban mengubah pengaturan tidur anak-anaknya. Ia memindahkan korban dan saudara perempuannya ke kamar yang sama dengan saudara mereka yang lain.

Semenjak itu, aksi pelecehan seksual berhenti. Meski pada satu kesempatan setelah aksi pelecehan terbongkar, pelaku sempat mencoba berbuat tak senonoh dengan korban.

Bejat Istri Sakit Kanker, Pria di Singapura Malah Cabuli Anak Kandung - Foto 1
 AFP

Istri di rumah sakit

Pada 1 September 2020, ibu korban dirawat di rumah sakit.

Malam itu juga, aksi kambuh pelaku muncul. Ia pun masuk ke kamar anak-anaknya dan duduk di kasur korban. Namun, pelaku kemudian meninggalkan ruangan setelah dikejutkan oleh suara putranya bersin dengan keras.

Keesokan harinya, korban memberitahu ibunya tentang kejadian tersebut melalui pesan teks.

Sang ibu kembali ke rumah beberapa hari kemudian dan kembali terlibat konfrontasi dengan suaminya. Namun, ketika dicecar pertanyaan mengapa dia pergi ke kamar anak-anak, pelaku hanya diam dan tidak menjawab.

Beberapa hari kemudian, sang ibu memutuskan untuk mengajukan permohonan perlindungan untuk anak-anaknya, terutama saat dia tidak ada.

Wanita itu membawa korban ke kantor polisi di mana gadis itu mengatakan kepada petugas bahwa ayahnya telah memperkosanya pada tahun sebelumnya.

Menurut penilaian oleh psikiater Institut Kesehatan Mental, pelaku tidak memiliki penyakit mental selama melakukan pelanggaran. Terdakwa pun dilaporkan tidak memiliki cacat intelektual.

Ibu korban meninggal karena penyakitnya pada Maret 2021. Sementara saat ini, korban sudah berusia 17 tahun.

Hakim Dedar Singh Gill mengatakan bahwa pemerkosaan seorang ayah terhadap anak perempuannya yang masih kecil dan rentan adalah 'jenis pemerkosaan terburuk', yang bisa 'menciptakan kekacauan dalam keluarga'.[]

"Tidak ada gadis muda yang harus berada dalam posisi ini," katanya, menunjuk bagaimana korban sebelahnya tidak melaporkan ayahnya karena ketergantungan keuangan keluarga padanya.

Dia juga mencatat bahwa ibu korban hanya mengubah pengaturan tidur tetapi tidak langsung melaporkan pelanggaran setelah memergoki aksi pelaku.

Hukuman untuk pemerkosaan adalah hingga 20 tahun penjara dan denda atau cambuk.