Rahmah

Begini Pentingnya Tahu Sejarah Syariat Menurut Dosen IAIN Bone Hukmiah Husain

Tarikh Tasyri' dalam pandangan Hukmiah Husain dalam mengetahui hukum


Begini Pentingnya Tahu Sejarah Syariat Menurut Dosen IAIN Bone Hukmiah Husain
Dosen IAIN Bone dalam Webinar Akurat Idea, Nasaruddin Umar Office dan The Nusa Institut (AKURAT.CO/IwanGunawan)

AKURAT.CO, Webinar Akurat Idea kembali diselenggarakan pada Senin (25/01/2021) dengan tema “Formulasi Hukum Islam dalam Lintas Sejarah Kenabian dan Kemanusiaan” melalui platform Zoom, live Youtube, dan media-media lainnya. Kali ini, webinar tersebut bekerja sama dengan Nasaruddin Umar Office dan The Nusa Institute, yang mana didukung oleh Akurat.co dan Akurat Poll. Hadir menjadi salah satu narasumber dalam acara tersebut, yakni Hukmiah Husain yang merupakan dosen IAIN Bone dan kepala pusat pengembangan karir mahasiswa dan alumni pada lembaga penjaminan mutu IAIN Bone.

Dalam webinar tersebut, Hukmiah Husain mengatakan bahwa sejarah syariat Islam (tarikh tasyri’) penting untuk mengetahui latar belakang munculnya satu hukum dan sebab-sebab diterapkannya hukum syariah.

“Pada Periode Makkah yakni pada awal masa kenabian Rasulullah Saw., yang mana konsen pada objek yang menerima dakwah. Mereka adalah kaum musyrikin yang menyembah berhala. Sehingga otomatis fokus utama Rasulullah Saw., adalah bagaimana mengalihkan keyakinan, kepercayaan, dan akidah mereka dari menyembah banyak Tuhan, kemudian menyembah satu Tuhan. Dan tentu saja Rasulullah Saw., dalam konsen ini tetap menyertakan akhlak”, ungkap dosen IAIN Bone itu dalam webinar.

Hukmiah Husain mengatakan bahwa Rasulullah Saw., tahu persis bahwa objek dakwah tersebut sudah memiliki keyakinan berurat, berakar, dan turun temurun dari nenek moyang mereka hingga di tengah-tengah mereka. Sehingga itu tidak mudah dilakukan dalam memberikan pemahaman kepada mereka untuk berpindah keyakinan.

“Jadi kita tidak bisa membayangkan bahwa Rasulullah Saw., di Makkah itu sudah membentuk komunitas dan legalitas hukum. Karena konsen Rasulullah sendiri adalah mengubah keyakinan yang sudah berakar itu”, ungkapnya lagi.

“Kemudian bahwa dakwah yang dilakukan Rasulullah Saw., senantiasa memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai sosial kulturalnya. Jadi fokus dakwahnya adalah mengenai keyakinan, akidah, akhlak,  masalah kemanusiaan, dan pemberitaan hal-hal ghaib. Tentu saja itu belum masuk di aturan-aturan”, tuturnya lagi dalam webinar tersebut.

Dosen IAIN Bone itu mengatakan bahwa dalam periode Madinah, Rasulullah Saw., disambut oleh orang-orang yang telah mengikuti ajaran Rasulullah Saw. Karena sebelum nabi dantang ke Madinah, Islam sudah disebar oleh sahabat-sahabat nabi. Sehingga penduduk Madinah sudah welcome menyambut Rasulullah saw., berbeda dengan penduduk Makkah yang melempari dan memusuhinya.

“Yang dibentuk di Madinah adalah perluasan dari apa yang telah Rasulullah Saw., tanamkan di Makkah. Yang paling fenomenal adalah telah masuk pada pembentukan hukum, muamalah, munakahat, masalah perceraian, qishas, ekonomi, bahkan hukum pelarangan. Selain itu, karena masyarakat yang heterogen, maka Rasulullah Saw., bersama penduduk Madinah dari berbagai kalangan itu membentuk Piagam Madinah, dalam rangka merangkum semua kemajemukan masyarakat Madinah. Sehingga dengannya akan sangat mudah menerapkan sebuah hukum”, paparnya lagi dalam webinar tersebut. []

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu