Ekonomi

Begini Mengatasi 'Burn Out' Karena Tekanan Pekerjaan, Cukup Hanya Liburan?

Burn out sering terjadi pada karyawan, pekerja rutin dan bahkan ibu rumah tangga karena lokasi dan aktifitas yang sama dan terus dilakukan berulang ulang.


Begini Mengatasi 'Burn Out' Karena Tekanan Pekerjaan, Cukup Hanya Liburan?
Karyawan menyelesaikan pekerjaannya di salah satu perkantoran di Jakarta, Senin (14/9/2020). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO  "Burn Out merupakan istilah yang menggambarkan keadaaan stress secara akut. Ketidaknyamanan ini umum terjadi bagi siapapun yang memiliki aktifitas secara kontinyu dengan sejumlah resiko yang berlebihan bahkan tanpa resiko, alias rutinitas yang membosankan. 

Hal ini bisa terjadi saat kita bekerja berlebihan di kantor atau lembur. Atau bisa juga ada banyak tekanan saat mengurus suatu bisnis, apalagi di tengah pandemi.

Dokter spesialis jiwa dari Siloam Hospitals Bali, dr. Monika Joy Reverger Sp KJ., mengatakan, kondisi seseorang yang mengalami situasi "burn out" tidak dapat disepelekan. Pasalnya, apabila tidak ditangani, burn out berdampak fatal. 

"Kondisi ini bila tidak ditangani dapat menjadi pencetus depresi dan gangguan kesehatan fisik maupun mental," ujar dr. Monika, melalui edukasi bincang sehat, seperti dalam keterangan resminya, Minggu (17/10/2021). 

dokter Monika yang kesehariannya berpraktek tetap di Siloam Hospitals Bali tetap yang berlokasi di bilangan sunset road Kuta Bali tersebut, "burn out" berbeda dengan rasa bosan. 

Ia mengatakan, 'burnout' erat  dengan rutinitas, dan burn out sering terjadi pada karyawan, pekerja rutin dan bahkan ibu rumah tangga karena lokasi dan aktifitas yang sama dan terus dilakukan berulang ulang bahkan tahunan.

Kondisi ini ditandai dengan kelelahan secara fisik dan emosional dan juga karena bayangan ekspektasi di pekerjaan belum juga tercapai, dan selalu menimbulkan rasa tidak nyaman ini. 

"Apabila dirasakan hingga lebih dari satu minggu, hendaknya segera berkonsultasi dengan pihak medis atau dokter ahli," kata dr. Monika. 

dr. Monika mengatakan, fenomena 'burn out' dapat ditangani dan bisa disembuhkan. Hanya saja, sebelum melakukan tindakan secara medis, hal pertama yang harus dilakukan adalah membuka komunikasi.