Rahmah

Begini Maksud dan Batasan 'Memutus Tali Silaturahmi' dalam Islam

Hukum memutus tali silaturahmi adalah haram


Begini Maksud dan Batasan 'Memutus Tali Silaturahmi' dalam Islam
Ilustrasi silaturahmi (pinterest.com)

AKURAT.CO Silaturahmi merupakan sebuah amalan dalam Islam yang banyak mengandung manfaat di dalamnya. Selain bisa lebih mengeratkan kembali persaudaraan, silaturahmi dapat memperbanyak rezeki. Nabi Muhammad Saw bersabda dalam sebuah haditsnya:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ   

Artinya: “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya) maka bersilaturrahimlah” (HR. Bukhari Muslim). 

Lalu bagaimana dengan makna dan batasan memutus tali silaturahmi dalam Islam? Dan apa saja batasan seseorang telah memutus tali silaturahmi di dalamnya? 

Habib Abdullah bin Husain bin Thahir Ba’lawi, dalam Is’ad ar-Rafiq, juz 2, hal. 117, mengatakan bahwa para ulama berbeda pendapat soal batasan memutus tali silaturahmi ini. Beliau mengatakan:

(و) ومنها (قطيعة الرحم) واختلف في المراد بها فقيل ينبغي ان تخص بالإساءة وقيل لا بل ينبغي ان تتعدى الى ترك الإحسان اذ الاحاديث آمرة بالصلة ناهية عن القطيعة. ولا واسطة بينهما والصلة ايصال نوع من انواع الاحسان والقطيعة ضدها فهي ترك الاحسان ، واستوجه في الزواجر ان المراد بها قطع ما ألفه القريب من سابق لغير عذر شرعي لأن قطعه يؤدي الى ايحاش القلوب وتنفيرها - ولا فرق بين كون الاحسان الذي الفه مالا او مراسلة او مكاتبة او زيارة او غير ذلك. فان قطع ذلك كله بعد فعله لغير عذر كبيرة   

Artinya: “Sebagian dari maksiat adalah memutus tali silaturahim. Para ulama berbeda pendapat mengenai makna yang dikehendaki dari ‘memutus tali silaturahim’ ini. Menurut sebagian pendapat, memutus tali silaturahim sebaiknya dikhususkan pada bentuk perbuatan buruk pada kerabat. Pendapat lain menyangkal pandangan tersebut, sebaiknya memutus tali silaturahim bertumpu pada tidak berbuat baik (pada kerabat), sebab dalam beberapa hadits menganjurkan untuk menyambung tali silaturahim dan melarang memutus tali silaturahim, dan tidak ada perantara makna di antara keduanya. Menyambung tali silaturahim berarti menyambungkan suatu kebaikan, sedangkan memutus tali silaturahim adalah kebalikannya, yakni tidak melakukan kebaikan.   Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab az-Zawajir berpandangan bahwa yang dimaksud dengan memutus tali silaturahim adalah memutus kebiasaan kerabat tanpa adanya uzur syar’i, sebab memutus hal tersebut akan mendatangkan pada kegersahan hati dan terasingnya hati. Tidak ada perbedaan apakah kebaikan yang dibiasakan itu berupa (pemberian) harta, saling menitip salam, berkirim surat, berkunjung, atau hal yang lainnya. Sesungguhnya memutus segala hal di atas—tanpa adanya uzur—setelah terbiasa melakukannya tergolong dosa besar”

Itulah batasan memutus tali silaturahmi. Para ulama berbeda pandangan satu dengan yang lainnya. Tetapi intinya, memutus tali silaturahmi adalah tidak lagi menjalin kekerabatan, hubungan, atau persaudaraan, yang didasari benci atau dendam. Wallahu A'lam.[]

Sumber: NU Online