Ekonomi

Begini Fakta-fakta Mikroplastik di Galon Sekali Pakai

Belum ada pengujian atau penelitian tentang keberadaan mikroplastik pada air minum dalam galon isi ulang. 


Begini Fakta-fakta Mikroplastik di Galon Sekali Pakai
Pekerja menata air minum kemasan galon di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, Selasa (1/9/2020). Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (Aspadin) meminta pemerintah memudahkan pengurusan Surat Izin Pengusahaan Sumber Daya Air (SIPSDA) untuk air permukaan guna memenuhi kebutuhan air bersih saat masa COVID-19. (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO  Banyak kening berkerut saat Laboratorium Kimia Anorganik Universitas Indonesia dan Greenpeace Indonesia, sebuah lembaga nirlaba dengan agenda advokasi lingkungan yang kerap berbenturan dengan pemerintah, mempublikasikan hasil riset keberadaan mikroplastik pada air minum dalam wadah galon sekali pakai akhir September silam. 

Persoalannya sederhana, alih-alih menyoroti gajah di tengah ruangan, yakni produk air minum bermerek dalam kemasan galon guna ulang yang praktis mendominasi pasar -- hampir 70% dari sekitar 30 miliar liter air kemasan yang beredar di pasar pada 2020 dalam wujud kemasan galon guna ulang, data Asosiasi Perusahaan Air Kemasan Indonesia. 

Riset justru semata terfokus pada dua merek galon sekali pakai, yang notabene, adalah pemain dengan level baru belajar berlari. Inilah yang memunculkan kesan adanya bias dari publikasi hasil penelitian itu. Uniknya, setelah satu bulan berlalu, kesan bias itu seperti memasuki tikungan baru. 

Ini lantaran peneliti universitas mendadak mengarahkan telunjuk ke sejumlah pihak yang dianggap memelintir hasil penelitian, via sejumlah pemberitaan, seolah-olah lembaga menyatakan bahwa kandungan mikroplastik dalam galon guna ulang lebih berbahaya ketimbang pada galon sekali pakai. 

“Data yang kami sampaikan itu kan soal kandungan mikroplastik pada galon sekali pakai, bukan pada kemasan plastik yang lain. Jadi, saya heran kalau sampai ada yang memberitakan soal kemasan plastik yang lain. Jelas itu tidak benar," kata Kepala Laboratorium Kimia UI, Agustino Zulys, seperti dalam keterangannya, Senin (25/10/2021).

Faktanya, bila merujuk rekaman video saat publikasi laporan secara daring pada 23 September, Agustino memang menyatakan belum ada pengujian atau penelitian tentang keberadaan mikroplastik pada air minum dalam galon isi ulang. 

Namun, dalam video yang sama, dia pula yang menyatakan mikroplastik sebagai kontaminan yang mau tidak mau ada dalam air minum yang dikemas dalam wadah berbahan plastik. Toh, katanya, meskipun terlihat rigit, kemasan plastik dalam ukuran mikroskopik adalah untaian-untaian polimer yang karena pergeseran dan panas bisa runtuh dan kemudian berada di dalam air itu sendiri. 

Masih dalam rekaman laporan yang sama, dia memperkirakan galon isi ulang berpotensi mengandung kontaminan mikroplastik yang lebih banyak daripada galon sekali pakai. Ini karena galon isi ulang mengalami penggunaan berulang-ulang, sehingga proses peluruhan plastiknya lebih banyak.

"Bila pada galon sekali pakai saja mikroplastik bisa ditemukan, tentunya galon isi ulang bakal lebih banyak lagi sebetulnya," katanya dalam rekaman, menjawab pertanyaan ihwal kemungkinan keberadaan mikroplastik dalam jumlah yang lebih besar pada galon isi ulang dan pada air minuman dengan perasa, soda dan sebagainya yang beredar luas di pasaran dalam kemasan botol plastik.