Rahmah

Begini Bukti Islam Menghargai Tradisi Lokal

Tradisi lokal salah satunya melekat pada masyarakat Jawa ketika Walisongo berdakwah


Begini Bukti Islam Menghargai Tradisi Lokal
Tradisi Lokal di Sebuah Masyarakat (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO, Budaya lokal merupakan nilai-nilai lokal hasil budi daya masyarakat suatu daerah yang terbantuk secara alami dan diperoleh melalui proses belajar dari waktu ke waktu. Budaya lokal tersebut bisa berupa hasil seni, tradisi, pola pikir, atau hukum adat.

Nilai dan hasil karya budaya lokal merupakan salah satu hal yang dihadapi oleh para penyebar Islam di Indonesia. Misalnya para Wali Songo, ketika menyebabkan Islam di tanah Jawa, mereka harus menghadapi keadaan masyarakat yang sangat meyakini bodaha lokalnya.

Lalu bagaimana dengan status budaya lokal dalam perspektif Islam? Apakah harus ditolak secara permanen dan diganti dengan ajaran Islam? Atau tetap dilestarikan dengan tetap berprinsip pada ajaran-ajaran agama?

baca juga:

Fathi Husain Al-Maliki dalam kitab Ru'yat Al-'Alam menyebutkan demikian:

أَنَّ أَحْوَالَ الْعَالَمِ وَالْأُمَمِ وَعَوَائِدَهُمْ وَنِحَلَهُمْ لَا تَدُومُ عَلىٰ وَتِيرَةٍ وَاحِدَةٍ وَمِنْهَاجٍ مُسْتَقِرٍّ.  إِنَّمَا هُوَ اخْتِلَافٌ عَلىٰ الْأَيَّامِ وَالْأَزْمِنَةِ. وَانْتِقَالٌ مِنْ حَالٍ إِلىٰ حَالٍ. وَكَمَا يَكُونُ ذٰلِكَ فِي الْأَشْخَاصِ وَالْأَوْقَاتِ وَالْأَمْصَارِ. فَكَذٰلِكَ يَقَعُ فِي الْآفَاقِ وَالْأَقْطَارِ وَالْأَزْمِنَةِ وَالدُّوَلِ سُنَّةُ اللهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ فِي عِبَادِهِ. 

Artinya: “Sungguh keadaan dunia, bangsa-bangsa, adat istiadat dan keyakinan mereka tidak selalu mengikuti satu model dan sistem yang tetap, melainkan selalu berbeda-beda (berubah) seiring perjalanan hari dan masa, berpindah dari satu kondisi menuju kondisi lainnya. Sebagaimana hal itu terjadi pada manusia, waktu, dan kota, di berbagai kawasan, zaman, dan negeri juga terjadi sunnah Allah (sunnatullah) yang telah terjadi pada hamba-hamba-Nya.”

Keterangan di atas menegaskan bahwa tradisi merupakan sunatullah, keputusan Allah yang tidak bisa ditolak. Keadaannya akan terus berubah dan terus berjalan sesuai dengan perubahan zaman. Dengan arti lain, tradisi lokal tidak boleh dihilangkan, apalagi disingkirkan di tengah masyarakat, selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai dasar syariat.

Maka dari itu saat Anda berdakwah, dan melihat adanya tradisi, Anda harus bertindak secara bijak. Tidak boleh emosi dan marah-marah serta memaksa agar tradisi lokal dibumi-hanguskan. Dalam QS. An-Nahl: 125 Allah SWT berfirman:

ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ 

Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sungguh Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Terkait dengan tradisi lokal ini bahkan dalam sejarahnya dikaitkan dengan keyakinan beragama. Misalnya, ketika Nabi menjumpai orang-orang Yahudi yang berpuasa untuk menghormati kemenangan kepada Nabi Musa as dan Bani Israil atas Fir’aun.

Sumber: NU Online