Rahmah

Begadang, Bolehkah Menurut Islam?


Begadang, Bolehkah Menurut Islam?
Pembeli menikmati hidangan nasi gulai di kedai Gulai Tikungan (Gultik), Bulungan, Jakarta, Sabtu (23/2/2019). Kendati gerimis mengguyur di wilayah Bulungan di Sabtu malam, tak menyurutkan niat para pembeli yang umumnya anak muda ibu kota. Gulai yang dicampur dengan nasi tersebut dipatok dengan harga Rp10 ribu per porsi. (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO, Begadang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah berjaga tidak tidur sampai larut malam. Begadang identik dilakukan oleh anak-anak muda untuk mngisi waktu malamnya. Tidak jarang begadang hanya diisi dengan ngobrol-ngobrol yang tidak bermanfaat.

Mengutip website Aladokter, pada umumnya tubuh manusia sudah disetting dengan jam biologis (ritme sirkadian) dimana saat malam hari akan beristirahat dengan tidur dan saat siang hari akan beraktivitas. Kebiasaan begadang meskipun saat siang hari seseorang tetap tidur hingga 8 jam, namun dapat mengubah jam biologis.

Apabila jam biologis berubah, akan lebih sulit untuk mengembalikan jam biologis ke kondisi normal seperti semula. Dengan demikian meskipun tubuh anda tidur 8 jam per hari, namun apabila anda tidak tidur pada malam hari tentu hal tersebut bisa mempengaruhi tubuh anda.

Rasulullah sendiri merupakan pribadi yang tidak begadang jika tidak ada hal manfaat yang dilakukannya. Dalam sebuah hadis Nabi Muhammad Saw bersabda:

Dari ‘Aisyah RA beliau menegaskan: “Nabi Muhammad biasa tidur pada awal malam dan bangun pada akhir malam, lalu shalat.” (Muttafaqun ‘alaih) (HR. Bukhari).

Kebiasaan Rasulullah tidur tepat awal malam tentu bukan tanpa sebab, akan tetapi agar beliau dapat bangun pada pertengahan malam dan melakukan ibadah semaksimal mungkin. Artinya, jika ada kegiatan yang bermanfaat, sebetulnya, Islam memperbolehkan umatnya begadang.

Abi Barzah juga menegaskan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.” (HR. Bukhari).

Kesimpulannya, begadang bisa boleh dan bisa juga tidak boleh. Begadang dianggap boleh dalam Islam manakala ada hal-hal yang bermanfaat bagi masa depan diri, keluarga, bangsa maupun agama. Sebaliknya, begadang tidak dibolehkan dalam Islam manakala hanya untuk hura-hura, ngobrol tanpa tujuan yang jelas arahnya.[]