News

Beda Pernyataan Boris Johnson dan 'Mantannya' atas Skandal Pesta Downing Street, Siapa yang Bohong?

Dominic Cummings mengklaim ia telah memperingatkan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson tentang adanya pesta di Downing Street selama lockdown Covid-19.


Beda Pernyataan Boris Johnson dan 'Mantannya' atas Skandal Pesta Downing Street, Siapa yang Bohong?
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson (kanan) dan Mantan Penasihat Senior Perdana Menteri Dominic Cummings. (Foto: BBC) ()

AKURAT.CO, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson diklaim telah berbohong kepada parlemen tentang pesta Downing Street yang diadakan selama lockdown ketat Covid-19. Namun, tudingan itu dibantahnya dengan tegas pada Selasa (18/1).

Dilansir dari AFP, Johnson telah meminta maaf atas pesta pada 20 Mei 2020 di taman Downing Street. Kawasan itu merupakan pusat pemerintahan Inggris karena terdiri dari kediaman sekaligus kantor perdana menteri dan menteri keuangan.

Di hadapan parlemen pekan lalu, Johnson mengaku mengiranya 'acara kerja', meski seorang ajudannya mengundang staf untuk membawa minuman keras sendiri. Di sisi lain, mantan penasihat seniornya, Dominic Cummings, mengaku telah memperingatkan atasannya saat itu tentang acara tersebut. Cummings sendiri telah melancarkan balas dendam terhadap Johnson sejak meninggalkan Downing Street pada akhir 2020.

baca juga:

"Saya bisa memastikan tak ada yang memperingatkan saya dan tak ada yang mengatakan bahwa acara itu melanggat aturan, melanggar protokol Covid-19, dan sesuatu yang bukan acara kerja," bantah Johnson.

Kantor perdana menteri pun kembali minta maaf kepada Ratu Elizabeth II setelah terungkap bahwa stafnya mengadakan pesta perpisahan selama masa berkabung nasional untuk Pangeran Philip pada April 2021.

Tak menyerah begitu saja, Cummings menulis unggahan blog terbaru bahwa ia telah memberi tahu Johnson kalau Downing Street menjadi 'rumah mabuk-mabukan'.

"Perdana menteri mengabaikannya. Terlepas dari rentetan peristiwa lainnya, perdana menteri berbohong kepada Parlemen soal pesta 20 Mei itu," klaimnya.

Ia bahkan mengaku siap disumpah atas pernyataannya itu.

Skandal pesta Downing Street telah mendorong penyelidikan oleh pegawai sipil senior, Sue Gray. Cummings pun mengklaim akan memberikan buktinya kepada Gray untuk menyelidikan.

Terungkapnya skandal ini juga memicu kemarahan publik. Akibatnya, Partai Buruh sebagai oposisi utama unggul 2 digit atas Partai Konservatif Johnson dalam jajak pendapat. Sejumlah rekan satu partainya juga mendesaknya mundur.

Ada 6 politisi Partai Konservatif blak-blakan mendesak Johnson mengundurkan diri. Kabarnya, ada lebih banyak lagi yang melakukannya secara pribadi.

Dibutuhkan 54 surat dari anggota parlemen Konservatif untuk memicu mosi tidak percaya. Johnson pun menghadapi pertanyaan oleh wartawan apakah ia akan mundur.

"Kita harus melihat hasil penyelidikan Gray dulu. Saya mengulangi permintaan maaf yang mendalam kepada masyarakat atas kesalahan yang mungkin dilakukan di luar pengawasan saya," jawabnya.

Sementara itu, para menteri senior Johnson sebagian besar mendukungnya. Mereka mendesak publik untuk menunggu kesimpulan dari penyelidikan Gray yang diperkirakan rilis beberapa hari mendatang.

Namun, jika seorang menteri terbukti berbohong terkait hal-hal di bawah undang-undang menteri dan pemerintahan di sekitar parlemen, ia terancam dicopot, menurut Dominic Raab, wakil perdana menteri sekaligus menteri kehakiman Inggris. []