Ekonomi

Beberkan Indikator Stabilitas Nilai Rupiah, Bank Indonesia: Inflasi Tetap Terkendali!

Beberkan Indikator Stabilitas Nilai Rupiah, Bank Indonesia: Inflasi Tetap Terkendali!
Ilustrasi Bank Indonesia (BI) (AKURAT.CO/Ryan)

AKURAT.CO, Mencermati perkembangan ekonomi yang berangsur pulih seiring dengan semakin terkendalinya penyebaran Covid-19, Bank Indonesia menyampaikan perkembangan indikator stabilitas nilai Rupiah secara periodik. Indikator yang dimaksud yaitu nilai tukar dan inflasi. 

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono memaparkan  perkembangan nilai tukar dari 23 hingga 27 Mei 2022, pada akhir Rabu tanggal 25 Mei 2022, rupiah ditutup menguat di level bid Rp14.630 per dollar Amerika Serikat (AS). Yield Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun turun di 7,17 persen. Kemudian DXY melemah ke level 101,83, sedangkan Yield UST Note 10 tahun turun ke level 2,747 persen.

“Pada pagi hari Jumat 27 Mei 2022 rupiah dibuka pada level bid Rp14.610 per dollar AS, kemudian Yield SBN 10 tahun turun di level 7,15 persen,” kata Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono, pada keterangan tertulis, Minggu (29/5/22).

baca juga:

Berdasarkan Survei Pemantauan Harga pada minggu 4 Mei 2022, lanjutnya, perkembangan inflasi sampai dengan Minggu IV Mei 2022 diperkirakan inflasi sebesar 0,35 persen m-to-m. Dengan perkembangan tersebut, perkiraan inflasi Mei 2022 secara tahun kalender sebesar 2,51 persen ytd, dan secara tahunan sebesar 3,50 persen y-on-y. 

“Penyumbang utama inflasi Mei 2022 sampai dengan minggu 4 Mei yaitu komoditas bawang merah sebesar 0,07 persen m-to-m, angkutan udara, sebesar 0,06 persen m-to-m, telur ayam ras sebesar 0,05 persen m-to-m, daging ayam ras sebesar 0,02 persen m-to-m, daging sapi, cabai merah, udang basah, kacang panjang, jeruk, sawi hijau, tempe, tahu mentah, bahan bakar rumah tangga, angkutan antar kota, nasi dengan lauk, dan air minum kemasan, masing-masing sebesar 0,01 persen m-to-m. Sementara itu, komoditas yang mengalami deflasi pada periode minggu ini yaitu minyak goreng sebesar 0,02 persen m-to-m dan emas perhiasan sebesar 0,01 persen m-to-m,” jelasnya.

Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk tetap mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan eksternal yang meningkat, serta terus mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan guna mendukung pemulihan ekonomi lebih lanjut.[]