News

Bea Cukai Angkat Bicara Soal Dugaan Skandal Impor Emas Senilai Rp 47,1 Triliun

Bea Cukai menilai informasi yang disampaikan Arteria Dahlan ini tidak benar


Bea Cukai Angkat Bicara Soal Dugaan Skandal Impor Emas Senilai Rp 47,1 Triliun
Ilustrasi - Emas (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/pd/17.)

AKURAT.CO  Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan membantah tudingan politisi PDIP Arteria Dahlan yang menyebut adanya skandal import emas senilai Rp47,1 triliun melalui bandara Soekarno-Hatta.

Pernyataan Arteria itu sebelumnya dia ungkapkan dalam Rapat Kerja (Raker) Komisi III dalam rapat kerja dengan Jaksa Agung.

Direktur Kepabeanan Internasional dan Antar Lembaga Ditjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Syarif Hidayat menyatakan, import emas sudah melalui prosedur yang berlaku dan tahap pemeriksaan ketat. 

"Tidak benar (informasi itu)," katanya, Senin (14/6/2021). 

Dia lalu menjelaskan, impor emas dapat diklasifikasikan ke dalam empat klasifikasi tarif Bea Masuk (BM). Yakni emas dengan kode HS 7108.12.10 untuk emas batangan yang akan diolah kembali. Baik dalam bentuk bongkah, ingot, atau batang ruangan dengan tarif bea masuk (BM) 0 persen. 

Lalu, ada juga HS 7108.12.90 selain dalam bentuk bongkah, ingot atau batang tuangan, dengan tarif BM 5 persen. Selain itu, ada juga HS 7108.13.00 untuk emas bentuk setengah jadi lainnya, dengan tarif BM 5 persen. Selanjutnya, ada HS 7115.90.10 untuk emas batangan yang langsung siap dijual, dengan tarif BM 5 persen. 

"Pengklasifikasian yang dilakukan oleh Bea Cukai sudah sesuai dengan prosedur yang berlaku," katanya. 

Prosedur yang dimaksud yakni importir melakukan pengajuan pemberitahuan impor barang dengan klasifikasi pada HS 7108.12.10.

Atas pemberitahuan tersebut, Bea Cukai melakukan penelitian terhadap uraian barang berdasarkan ketentuan dan kaidah-kaidah serta referensi-referensi yang diatur dalam Buku Tarif Kepabeanan Indonesia (BTKI) yang dituangkan dalam Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System atau KUM HS, catatan bagian, catatan bab, dan explanatory notes. 

"Hasil penelitian mendapati bahwa emas tersebut tidak dimasukan sebagai minted gold bar dikarenakan barang tersebut tidak dihasilkan melalui rolling, drawing, maupun cutting dan hanya berbentuk sebagaimana asalnya atau dalam bentuk sesuai mouldingnya," katanya. 

Atas importasi tersebut, Bea Cukai dan Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan pada saat ini sedang melakukan review kembali terkait penetapan tarif BM Emas batangan tersebut.

"Saat ini review atas jenis emas batangan tersebut masih berjalan secara internal di Bea Cukai, dengan melihat ketentuan di BTKI, jenis emas batangan yang diimpor, dan ketentuan di World Customs Organization (WCO)," katanya. 

Dari hasil dari review tersebut kemudian akan digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan yakni, bila emas batangan tersebut memang masuk spesifikasi HS 7108.12.10, maka tarif BM akan tetap dikenakan 0 persen sesuai dengan yang sudah berjalan saat ini.

"(Dan) Bila emas batangan tersebut masuk spesifikasi HS 7108.13.00 dan HS 7115.90.10, maka tarif BM akan dikoreksi menjadi 5 persen. Dan kemudian akan ada penelitian ulang untuk menghitung kembali beban BM dalam 2 tahun berjalan, sesuai ketentuan perundang-undangan," ujarnya.[]