News

BBM Naik Lebih dari 100 Persen, Demonstran Ekuador Serbu Gedung Parlemen


BBM Naik Lebih dari 100 Persen, Demonstran Ekuador Serbu Gedung Parlemen
Demonstran bentrok dengan polisi antihuru-hara saat unjuk rasa yang berujung rusuh di Quito, Ekuador, Kamis (3/10/2019) (REUTERS/Ivan Castaneira)

AKURAT.CO, Massa demonstran di Ekuador menyerbu gedung parlemen dalam lanjutan aksi protes kenaikan harga BBM. Demonstran menuntut pemerintah membatalkan pencabutan subsidi BBM dan memindahkan pemerintah keluar dari ibu kota.

Aksi ini telah berlangsung selama beberapa hari dan diikuti berbagai elemen termasuk masyarakat adat. Harga BBM melonjak lebih dari 100 persen setelah pemerintah mengumumkan pencabutan subsidi.

Para demonstran terlibat bentrok dengan petugas kepolisian yang berjaga di gedung parlemen. Para saksi mata mengatakan, para demonstran, yang beberapa di antaranya membawa perisai kayu, menerobos barisan keamanan di sekitar gedung Majelis Nasional pada hari Selasa.

Begitu masuk, mereka melambaikan bendera dan meneriakkan slogan-slogan sebelum dipaksa kembali oleh pasukan keamanan menggunakan gas air mata. Tidak ada staf di dalam gedung saat itu.

Bangunan pemerintah lainnya di ibu kota juga diserang dan dirusak.

Penyerbuan itu terjadi beberapa jam setelah Presiden Ekuador, Lenin Moreno, mengumumkan bahwa sementara dia telah memindahkan operasi pemerintah dari ibu kota ke kota pelabuhan Guayaquil.

Dalam pidato yang disiarkan televisi pada hari Senin, ia mengatakan tidak akan mundur karena kenaikan harga bahan bakar dan menuduh lawan-lawannya berupaya melakukan kudeta.

Terkait subsidi, Moreno mengatakan bahwa subsidi BBM membebani pemerintah hingga USD 1,3 miliar per tahun (Rp18,4 triliun). Penghapusan subsidi, diperkenalkan pada tahun 1970-an, adalah bagian dari rencananya untuk menopang perekonomian Ekuador yang lesu dan meringankan beban utangnya.

Pemerintah telah sepakat untuk memotong pengeluaran publik sebagai bagian dari kesepakatan pinjaman dengan Dana Moneter Internasional (IMF). Perjanjian tersebut, yang ditandatangani pada bulan Maret, memungkinkan Ekuador untuk meminjam USD 4,2 miliar (Rp59 triliun). []

Dian Dwi Anisa

https://akurat.co