Ekonomi

Bayar Pakai Rubel untuk Beli Migas, Uni Eropa Layangkan Protes!

Menurut Uni Eropa, hal ini katanya melanggar kontrak perjanjian perihal pembayaran


Bayar Pakai Rubel untuk Beli Migas, Uni Eropa Layangkan Protes!
Logo perusahaan minyak Gazprom Neft terlihat di stasiun pompa bensin di Moskow, Rusia. (REUTERS/Maxim Zmeyev)

AKURAT.CO, Komisioner dari Uni Eropa (UE) melayangkan protesnya kepada kebijakan Presiden Rusia Vladimir Putin yang menetapkan untuk melakukan pembelian gas dan bahan bakar Rusia diharuskan konversi mata uang ke Rubel. Ini menjadikan pukulan telak bagi Uni Eropa karena mereka merupakan konsumen gas terbesar dari Rusia.

Akan tetapi, UE mengatakan bahwa hal tersebut tidak bisa dilakukan secara sepihak karena melanggar kontrak yang sudah dibuat antar perusahaan yang terkait dengan transaksi minyak dan gas di UE.

Juru bicara Komisi UE mengatakan hampir semua kontrak perusahaan di UE dengan raksasa gas Rusia boleh transaksi dalam euro atau dolar. Jadi dengan membuka rekening dalam rubel di Gazprombank hanya akan melanggar kontrak yang sudah ditetapkan.

baca juga:

"Ini melampaui indikasi yang kami berikan kepada negara-negara anggota (terutama perusahaan) tentang apa yang diizinkan," ujar juru bicara itu dalam jumpa pers reguler dikutip dari Reuters, Rabu (18/5/2022).

Perusahaan gas di UE pun juga sepakat bila dalam kontrak dengan Rusia, selama pembayaran minyak dan gas masih menggunakan dolar atau euro, transaksi masih dapat dilakukan.

Sebelumnya, sebagai bentuk balas dendam agar dapat mengembalikan devisa negaranya akibar di sanksi oleh Barat, Rusia memberikan berbagai syarat untuk bisa mengakses sumber energi, salah satunya ialah wajib untuk membuka rekening di bank swasta di Rusia, yaitu Gazprombank yang mana bank tersebut merupakan anak perusahaan dari Gazprom, BUMN gas asal Rusia.

Sehingga nantinya, dengan mereka yang membuka rekening di Gazprombank, nantinya pembayaran dapat dikonversi ke Rubel Rusia.

Setidaknya sudah ada dua negara yang terlibat dalam ketidakpatuhan 'syarat' yang diberikan oleh Rusia, diantaranya adalah Polandia dan Bulgaria. Kedua negara tersebut sangat bergantung dengan gas alam dari Rusia, namun karena tidak memenuhi persyaratan, Gazprom memberhentikan pengaliran gasnya.

Selain mengatur persayaratan untuk negara yang tidak bersahabat, Rusia juga mengatur persyaratan kepada negara yang masih bersahabat dengan Rusia, seperti India dan China. Akan tetapi, masih ada aturan yang belum jelas dari Rusia mengenai tata cara pembayaran yang akan dilakukan.

Sebelumnya, untuk diketahui PGNiG (BUMN gas milik Polandia) menyatakan bahwa pasokan dari Gazprom melalui Ukraina dan Belarus akan dipotong. Namun Polandia berkilah bahwa cadangan gas yang dimilikinya masih termasuk aman dan sudah mencapai 76 persen.[]

Sumber: Reuters