Lifestyle

Bau Nyale, Serunya Tradisi Mencari Putri Mandalika di Pantai Lombok

Bau Nyale merupakan tradisi turun temurun Suku Sasak


Bau Nyale, Serunya Tradisi Mencari Putri Mandalika di Pantai Lombok
Tardisi Bau Nyale (WIKIPEDIA/Focusfeel )

AKURAT.CO Bau Nyale merupakan tradisi turun temurun Suku Sasak. Tradisi ini digelar setiap  tanggal 20, bulan 10, penanggalan Suku Sasak. Dalam tradisi ini, ribuan orang menangkap cacing laut di sepanjang pantai Pulau Lombok. Tradisi ini sangat sakral bagi masyarakat Lombok,dan diyakini membawa keselamatan dan kesejahteraan.

Adapun Bau artinya tangkap dan Nyale merupakan binatang sejenis cacing yang diyakini penjelmaan dari Putri Mandalika. Ya, tradisi ini memang sangat lekat dengan legenda Putri Mandalika pada abad ke-16. Konon, ada sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang adil dan bijaksana.

Sang raja memiliki seorang anak perempuan yang diberi nama Putri Mandalika. Sang putri tumbuh menjadi gadis yang cantik dan berkepribadian baik.

Oleh sebab itu, banyak pangeran dan pemuda yang ingin memperistri Putri Mandalika. Lamaran demi lamaran datang, hingga akhirnya sang raja menyerahkan keputusan tersebut kepada sang Putri sendiri.

Tak ingin gegabah, Putri Mandalika pun memutuskan untuk bersemedi. Sepulangnya bersemedi, Putri Mandalika mengundang seluruh pangeran dan pemuda untuk berkumpul di pantai Seger pada tanggal ke 20 bulan ke 10 pada penanggalan Suku Sasak, tepatnya sebelum adzan subuh berkumandang.

Bau Nyale, Serunya Tradisi Mencari Putri Mandalika di Pantai Lombok - Foto 1
legenda Putri Mandalika Mandalika Post

Pada hari yang ditentukan, semua pangeran dan pemuda yang ingin menikahi Putri Mandalika berkumpul di pantai Seger. Tepat saat matahari mulai terbit, Putri Mandalika, besarta raja dan ratu muncul. Pada waktu itu Putri Mandalika terlihat sangat cantik dibalut dengan busana indah yang terbuat dari sutera. 

Putri Mandalika kemudian mengungkapkan keputusannya. Demi  menghindari peperangan antar pangeran yang memperebutkan dirinya, Putri Mandalika berencana menerima semua lamaran yang ditujukan kepadanya.

Kemudian sang Putri langsung menjatuhkan dirinya ke dalam laut dan seketika hanyut di telan ombak. Beberapa orang pemuda dengan sigap menceburkan diri ke laut untuk menyelamatkan Putri Mandalika. Sayangnya, Putri Mandalika tidak pernah ditemukan. 

Bau Nyale, Serunya Tradisi Mencari Putri Mandalika di Pantai Lombok - Foto 2
Tradisi Nyale di Lombok Wikipedia/Ken Miichi

Tak lama kemudian muncul cacing panjang yang kemudian cacing tersebut diberi nama nyale. rakyat percaya bahwa cacing tersebut merupakan jelmaan Putri Mandalika. Sejak saat itu, berkembang tradisi Bau Nyale di Pulau Lombok. Tradisi ini dilakukan setahun sekali pada sekitar bulan Februari hingga Maret.

Awal mulanya dilakukan oleh masyarakat Sasak di Lombok Tengah bagian selatan, namun sekarang sudah mulai dibudayakan oleh Lombok Timur dan Lombok Barat bagian selatan.

Adapun lokasi-lokasi yang digunakan sebagai tempat pelaksanaan tradisi Bau Nyale adalah disepanjang Pantai Selatan Lombok mulai dari Timur ke Barat yaitu di Blowam, Jerowaru, Awang, Terasaq, Aan dan Seger serta Blongas.

Tradisi ini pun dimeriahkan dengan beragam kesenian lokal tradisional seperti Betandak (berbalas pantun), Bejambik (pemberian cindera mata kepada kekasih), serta Belancaran (pesiar dengan perahu), hingga pementasan drama kolosal Putri Mandalika.[]