News

Baru Terima 5 Persen dari Negara Maju, Bantuan Penanganan Covid-19 di Negara Miskin Kekurangan Dana

Baru Terima 5 Persen dari Negara Maju, Bantuan Penanganan Covid-19 di Negara Miskin Kekurangan Dana
Mengandalkan hibah dari negara kaya, ACT-Accelerator membantu penyediaan vaksin, tes, dan perawatan Covid-19 bagi negara miskin. (Associated Press)

AKURAT.CO, Sebuah inisiatif global menggalang dana dari negara-negara kaya untuk membantu tes, perawatan, dan vaksin Covid-19 bagi negara-negara miskin. Namun, baru 5 persen dari target donasi yang diterima, menurut WHO dan lembaga bantuan lainnya.

Dilansir dari Reuters, Access to Covid-19 Tools (ACT) Accelerator menganggarkan upaya bantuan USD 23,4 miliar (Rp336 triliun) dari Oktober 2021 hingga September 2022. Diharapkan USD 16,8 miliar (Rp241 triliun) di antaranya datang dalam bentuk hibah dari negara kaya. Namun, yang dijanjikan sejauh ini baru USD 814 juta (Rp11 triliun), menurut para pemimpin ACT dalam konferensi pers pada Selasa (8/2).

Selain WHO, proyek ini didukung oleh sejumlah organisasi lainnya, termasuk Coalition for Epidemic Preparedness Innovations, The Global Fund, dan Bill and Melinda Gates Foundation.

baca juga:

"5 persen itu sangat kecil dari yang kita butuhkan. Ini saatnya untuk membangkitkan kesadaran dunia," ajak duta besar global WHO untuk pembiayaan kesehatan sekaligus mantan perdana menteri Inggris, Gordon Brown.

Pada Rabu (9/2), sejumlah pemimpin dunia akan secara terbuka mendukung desakan lebih banyak pendanaan dan menyerukan investasi untuk mengakhiri fase darurat pandemi Covid-19 tahun ini.

ACT-Accelerator mencakup inisiatif COVAX yang berfokus pada akses yang adil terhadap vaksin. Inisiatif ini juga mengupayakan penyediaan tes dan perawatan ke negara berpenghasilan rendah dan menengah serta APD untuk tenaga kesehatan.

Menurut Bruce Aylward, seorang pejabat senior WHO yang diangkat sebagai koordinator ACT-Accelerator, inisiatif tersebut tersendat karena kekurangan dana.

"Respons global mulai menguap," keluhnya.

Kekurangan dana ini sudah terlihat sejak awal pandemi. Kesenjangan untuk anggaran proyek sebelumnya adalah USD 14,5 miliar (Rp208 triliun). Menurut para mitra, sebagian besar pendanaan sejauh ini telah digunakan untuk vaksin Covid-19, sehingga tujuan lainnya, seperti tes, perawatan, dan APD, menipis.

Namun, inisiatif tersebut tetap saja gagal mencapai tujuannya untuk mengirimkan 2 miliar vaksin Covid-19 pada 2021. Hanya 10 persen masyarakat di negara berpenghasilan rendah telah menerima setidaknya 1 dosis vaksin, dibandingkan hampir 68 persen di negara kaya, menurut data WHO.

Brown pun menyerukan negara-negara untuk mendanai inisiatif ini dengan model 'bagian yang adil' berdasarkan ukuran ekonomi mereka sendiri. Model ini dikatakannya menyerupai komitmen negara-negara dalam mendanai pasukan penjaga perdamaian PBB. []