Rahmah

Baru Tahu Ada Najis di Pakaian Setelah Selesai Salat, Apakah Salat Harus Diulang?

Ulama berbeda pendapat jika seseorang baru tahu ada najis pada pakaiannya


Baru Tahu Ada Najis di Pakaian Setelah Selesai Salat, Apakah Salat Harus Diulang?
Ilustrasi salat (pinterest.com)

AKURAT.CO  Salah satu syarat untuk melakukan salat adalah suci dari najis yang ada pada tubuh seseorang atau pakaiannya. Jika padanya ada najis, maka salatnya tidak dianggap sah dan harus mengulang salatnya.

Dalil wajibnya suci dari najis pada saat melaksanakan shalat salah satunya berdasarkan hadis:

إِذَا أَصَابَ ثَوْبَ إِحْدَا كُنَّ الدَّمُ مِنْ الْحَيْضَةِ فَلْتَقْرُصْهُ ثُمَّ لِتَنْضَحْهُ بِمَاءٍثُمَّ لِتُصَلِّي فِيهِ 

Artinya: “Apabila pakaian salah satu dari kalian terkena darah haid, hendaknya ia menggosoknya kemudian membasuhnya dengan air, lalu ia boleh mengenakannya untuk shalat.” (HR. Bukhari Muslim).

Namun bagaimana jika seseorang tidak mengetahui bahwa pada bajunya ada najis? Ia baru mengetahui ada najis setelah selesai melakukan salat? Apakah harus mengulang salatnya atau tidak perlu?

Ulama berbeda pendapat tentang ini. Golongan Syafi'i dan Hambali mengatakan agar seseorang yang mengalami demikian harus mengulang salatnya, demi kesempurnaan salat. Sementara ulama lain menganggap tidak perlu mengulang, sebab ia tidak sengaja membiarkan najis saat akan salat.

Perbedaan pendapat dalam menghukumi permasalahan ini, dijelaskan dalam kitab Al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab:

(فرع) في مذاهب العلماء فيمن صلى بنجاسة نسيها أو جهلها . ذكرنا أن الأصح في مذهبنا وجوب الإعادة وبه قال أبو قلابة وأحمد وقال جمهور العلماء : لا إعادة عليه، حكاه ابن المنذر عن ابن عمر وابن المسيب وطاوس وعطاء وسالم بن عبد الله ومجاهد والشعبي والنخعي والزهري ويحيى الأنصاري والأوزاعي وإسحاق وأبي ثور قال ابن المنذر وبه أقول، وهو مذهب ربيعة ومالك وهو قوي في الدليل وهو المختار  

Artinya: “Cabang pembahasan dalam menjelaskan beberapa pendapat ulama tentang orang yang shalat dengan membawa najis yang ia lupakan atau tidak diketahuinya. Kami menyebutkan bahwa sesungguhnya qaul ashah (pendapat yang cenderung lebih benar) dalam mazhab kita (Mazhab Syafi’i): wajib mengulangi shalatnya. Pendapat demikian diikuti oleh Abu Qalabah dan Imam Ahmad. Mayoritas ulama berpendapat tidak wajib mengulangi shalatnya, pendapat demikian diungkapkan oleh Imam Ibnu Mundzir dari riwayat Sahabat Ibnu ‘Umar, Ibnu al-MusayyabThawus, Atha’, Salim bin ‘Abdullah, Mujahid, Sya’bi, Nukho’i, Zuhri,Yahya al-Anshari, Auza’i, Ishaq, dan Imam Abi Tsur. Imam Ibnu Mundzir begitu juga aku (Imam Nawawi) berkata: “Pendapat tidak wajibnya mengulangi shalat adalah pendapat Imam Malik. Pendapat ini kuat dari segi dalilnya dan merupakan pendapat yang terpilih.”

Alangkah baiknya kita mengikuti pandangan Imam Syafi'i, sebagai Imam yang mazhabnya banyak diikuti oleh masyarakat Indonesia. Sehingga, konsistensi kita dalam memegang keyakinan merupakan konsistensi yang baik dalam masalah ibadah.[]