News

Baru 30 Persen Daerah Dihitung, Petahana Perdana Menteri Armenia Klaim Kemenangan Pemilu

Aliansi Kocharyan menolak mengakui klaim kemenangan Pashinyan, apalagi baru 30 persen daerah yang telah dihitung


Baru 30 Persen Daerah Dihitung, Petahana Perdana Menteri Armenia Klaim Kemenangan Pemilu
Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan telah mendeklarasikan kemenangannya pada Senin (21/6). (Foto: BBC)

AKURAT.CO, Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan telah mengklaim kemenangan awalnya dalam Pemilu kilat parlemen.

Dilansir dari BBC, hasil awal menunjukkan partai Kontrak Sipil yang diketuai Pashinyan memimpin dengan 58 persen suara. Namun, aliansi oposisi yang dipimpin oleh pesaing utamanya, mantan presiden Robert Kocharyan, menuduh Pemilu dicurangi.

Saat mendeklarasikan kemenangannya pada Senin (21/6) pagi, Pashinyan mendesak para pendukung untuk berkumpul di alun-alun utama ibu kota Yerevan pada malam hari.

"Rakyat Armenia memberikan mandat kepada Partai Kontrak Sipil kami untuk memimpin negara dan kepada saya secara pribadi untuk memimpin negara sebagai perdana menteri. Kami sudah tahu kalau kami menang telak dalam Pemilu dan akan memegang mayoritas yang meyakinkan di parlemen," ucapnya.

Hampir 50 persen dari 2,6 juta pemilih yang memenuhi syarat di negara itu memberikan suaranya pada Minggu (20/6), menurut pernyataan otoritas Pemilu Armenia. Instansi tersebut juga menegaskan kalau pemungutan suara dilaksanakan sesuai undang-undang.

Namun, aliansi Kocharyan menolak mengakui klaim kemenangan Pashinyan, apalagi baru 30 persen daerah yang telah dihitung.

"Ada ratusan sinyal dari tempat pemungutan suara yang bersaksi tentang pemalsuan terorganisir dan terencana. Itu alasannya kami tidak mempercayainya," bunyi pernyataan blok tersebut.

Pada Minggu (20/6), kantor kejaksaan mengaku telah menerima 319 laporan pelanggaran. Instansi itu juga telah membuka 6 penyelidikan kriminal. Semunya terkait dugaan suap saat kampanye.

Kocharyan sendiri sebelumnya dituduh mengatur Pemilihan Presiden demi sekutu politik. Ia juga dituduh memimpin tindakan keras mematikan terhadap demonstran pada 2008.

Pashinyan berkuasa usai memimpin revolusi rakyat pada 2018. Armenia pun menuai pujian dari beberapa negara ketika mengadakan Pemilu pertama yang bebas dan adil di bawah kepemimpinannya tahun itu.

Namun, negara ini mengalami krisis politik sejak November 2020 ketika Pashinyan menandatangani gencatan sejata dengan Azerbaijan untuk mengakhiri perang Nagorno-Karabakh. Menurut data resmi, 2.904 prajurit Azerbaijan kehilangan nyawa mereka dalam perang tahun lalu. Sementara itu, Armenia kehilangan sekitar 4 ribu prajurit.[]