Ekonomi

Bappenas Pede Ekonomi Hijau Bisa Hasilkan Cuan, Ini Buktinya!

Selain itu, beberapa hal yang ditemukan dari laporan tersebut adalah ekonomi hijau mampu menyelematkan emisi gas rumah kaca (GRK) hingga 87-96 miliar ton

Bappenas Pede Ekonomi Hijau Bisa Hasilkan Cuan, Ini Buktinya!
Kepala Bappenas Suharso Monoarfa saat hadir dalam rapat kerja dengan Komisi II di Kompleks Parlemen MPR/DPR-DPD, Senayan, Jakarta, Selasa (28/6/2022). (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO Kementerian PPN/Bappenas memberikan paparannya mengenai basis dari ekonomi hijau. Berdasarkan laporan Indeks Ekonomi Hijau atau Green Economy Index (GEI) disebutkan bahwa ekonomi hijau dapat meningkatkan pertumbuhan PDB Indonesia rata-rata di angka 6,1 persen sampai dengan 6,5 persen per tahun hingga 2050.

Laporan tersebut disampaikan pada 3rd G20 Development Working Group (DWG) Side Event "Towards Implementation and Beyond: Measuring the Progress of Low Carbon and Green Economy".

"Prinsip utama ekonomi hijau adalah menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, seiring mendorong kesejahteraan sosial dan menjaga kualitas dan daya dukung lingkungan," ujar Suharso Monoarfa, Menteri PPN/Kepala Bappenas dalam keterangan tentang peluncuran laporan Indeks Ekonomi Hijau pada Selasa (9/8/2022).

baca juga:

Selain itu, beberapa hal yang ditemukan dari laporan tersebut adalah ekonomi hijau mampu menyelematkan emisi gas rumah kaca (GRK) hingga 87-96 miliar ton pada rentang 2021-2060. Intensitas emisi juga dapat menurun hingga 68 persen di 2045 dengan penerapan ekonomi hijau.

Di sisi lain, Pendapatan Nasional Bruto (PNB) dapat lebih tinggi di rentang 25-34 persen, setara USD13.890 hingga USD14.975 per kapita pada 2045. Ekonomi hijau juga berpotensi menghasilkan tambahan 1,8 juta tenaga kerja di sektor green jobs pada 2030 yang tersebar di sektor energi, kendaraan elektronik, restorasi lahan, dan sektor limbah.

Sementara dari sektor lingkungan setidaknya sebanyak 40 ribu jiwa bakal terselamatkan dari pengurangan polusi udara di 2045. Restorasi jasa ekosistem juga dapat menyentuh angka USD4,75 triliun per tahun pada 2060.

Kemudian, 3,2 juta hektare hutan primer dapat terlindungi pada 2060, penambahan tutupan hutan 4,1 juta hektare pada 2060, peningkatan luas hutan mangrove menjadi 3,6 juta hektare pada 2060, serta ketahanan iklim perekonomian akan makin mengalami peningkatan.

Dalam hal ini, Perencana Ahli Utama Kementerian PPN/Bappenas Arifin Rudiyanto mengungkapkan bahwa Indeks Ekonomi Hijau adalah instrumen penting untuk mengukur efektivitas transformasi ekonomi yang berkelanjutan dan rendah karbon dengan metodologi akurat.

"Ke depannya, pemerintah akan menjadikan Indeks Ekonomi Hijau sebagai salah satu sasaran makro pembangunan ke dalam dokumen perencanaan pembangunan nasional jangka menengah dan jangka panjang berikutnya," kata Arifin.[]