Rahmah

Banyak yang Gagal Paham, Ini Penjelasan UAH Soal Hukum Wudhu dalam Keadaan Haid

UAH menjelaskan terkait dengan haid yang termasuk ke dalam hadas besar, maka gugur hadasnya adalah dengan menggunakan mandi besar.


Banyak yang Gagal Paham, Ini Penjelasan UAH Soal Hukum Wudhu dalam Keadaan Haid
Ustaz Adi Hidayat (Tangkapan Layar YouTube Adi Hidayat Official)

AKURAT.CO  Ustaz Adi Hidayat atau yang lebih akrab disapa UAH menjelaskan bahwa wudhu memiliki dua fungsi. Pertama, membersihkan hadas kecil. Kedua, menjaga nilai-nilai kebaikan sebagai pencaran kemuliaan yang diberikan oleh Allah SWT.

"Karena orang yang wudhu itu, selain juga hadasnya hilang, dia juga terjaga dalam kebaikan dari hikmah wudhu," ujar UAH dalam video yang diunggah dari YouTube Adi Hidayat Official pada 29 Januari 2022.

Oleh karena itu, UAH menyebut jika orang yang dapat menjaga wudhu, maka dapat menjaga sikapnya dari tindakan yang dilarang oleh agama.

baca juga:

"Makanya orang-orang yang biasa berwudhu, itu biasanya sikapnya terjaga. Dia tidak mau berperilaku yang buruk, dia tidak mau berkata yang tidak baik, memandang yang tidak elok," ungkap UAH.

Lantas bagaimana hukum berwudhu bagi seorang wanita yang sedang haid?

Dari dua fungsi wudhu tersebut, UAH menjelaskan terkait dengan haid yang termasuk ke dalam hadas besar, maka gugur hadasnya adalah dengan menggunakan mandi besar, sama dengan nifas pada perempuan.

"Nah dengan haid, itu tidak bisa menghilangkan hadasnya bila kita hanya sekedar berwudhu," jelas UAH.

"Jadi kalau wudhu, orang haid itu hadasnya tetap ada hadas, tetap haid tidak bisa menghilangkan haidnya. Tetapi fungsi wudhu yang kedua itu masih bisa melekat pada dirinya, menjaga pada nilai-nilai kemuliaan, menyegarkan keadaan dirinya, menjada pada sikapnya," tambah UAH.

Jadi bagi perempuan yang tengah mengalami masa haid, menurut UAH, dapat diperkenankan untuk berwudhu. 

"Boleh-boleh saja, silahkan, bahkan dianjurkan untuk menghadirkan fungsi yang kedua, bukan untuk menghilangkan hadas haidnya. Tetap dia haid, tidak bisa kemudian gugur dengan wudhu. Nanti kalau sudah selesai masa haidnya, mandi tidak dengan berwudhu," jelas UAH.

Meskipun begitu, UAH menambahkan dengan wudhu tersebut, maka wanita yang sedang haid dapat menghadirkan fungsi yang kedua yaitu penjagaan-penjagaan pada kebaikan, menjaga keadaan tetap dalam keadaan yang baik. Adapun suci yang dimaksudkan bukan suci secara fisik, tetapi secara makna yaitu menjada pada keadaan diri.

"Jadi secara singkat, sangat diperkenankan bagi perempuan yang haid untuk menjaga wudhu bukan untuk menghilangkan hadas haidnya, tetapi untuk menjaga nilai-nilai maknawi yang kedua yaitu menjaga pancaran kebaikan yang dijanjikan dalam wudhu tersebut," tandas UAH. []