Lifestyle

Banyak WNA Keluar dari Indonesia, Panik?

Warga Negara Asing (WNA) keluar dari Indonesia selayaknya menjadi perhatian serius pemerintah. Sebab, bisa jadi pertanada eksodus penduduk


Banyak WNA Keluar dari Indonesia, Panik?
Antrean calon penumpang mengular di Fasilitas Health Center Terminal 2 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang. (AKURAT.CO/Izqi)

AKURAT.CO, Banyaknya Warga Negara Asing (WNA) keluar dari Indonesia selayaknya menjadi perhatian serius pemerintah. Sebab, bisa jadi pertanada eksodus penduduk.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), eksodus pendusuk adalah perbuatan meninggalkan tempat asal (kampung halaman, kota, negeri) oleh penduduk secara besar-besaran. Artinya bukan 1 atau 2 negara saja.

Eksodus ini seperti yang terjadi pada Wuhan pada awal 2020 lalu, saat virus Covid-19 baru mulai terdeteksi di Wuhan. Di mana hampir semua negara memulangkan warganya, termasuk Indonesia.

Diketahui, beberapa negara sudah meminta warganya untuk keluar dari Indonesia. Menurut data dari Imigrasi Kelas I Khusus Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Bandar Udara Soekarno-Hatta, ada 2.056 warga China yang keluar RI dan memutuskan pulang kampung, sejak 1 hingga 23 Juli. 

Tak hanya warga China, Kedutaan Besar Jepang di Jakarta pernah menyebut bahwa sekitar 2.000 imigran ekspatriat ingin kembali ke Negeri Sakura karena instruksi kantor pusat.

Menurut Kedutaan Besar Jepang, Pemerintah Jepang memfasilitasi pemulangan tersebut, dengan menyiapkan pesawat khusus. Begitu juga dengan karantina serta fasilitas kesehatan yang dibutuhkan bagi warganya.

Selanjutnya, sekitar 80 warga negara Korea Selatan (Korsel) telah dipulangkan dari Indonesia pada pertengahan Juli, dengan kondisi sebagian terinfeksi Covid-19. 

Bahkan laporan Kedutaan Besar Korsel di Indonesia, hingga 22 Juli ada 288 warga yang tinggal di Indonesia yang telah terinfeksi virus Covid-19. Lalu, Sebanyak 15 orang dinyatakan telah meninggal.

Sama seperti yang lainnya, dilansir dari Arab News, Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi meminta warganya untuk keluar dari Indonesia. Ini disampaikan dalam pengumuman terbaru negeri itu, yang sekaligus melarang warganya ke Indonesia.

"Sumber resmi di Kementerian Dalam Negeri menyatakan bahwa berdasarkan kepedulian pemerintah kerajaan terhadap keselamatan warga yang ingin bepergian ke luar negeri, dan mengingat berlanjutnya wabah pandemi virus corona (Covid-19), penyebaran virus mutasi baru strain virus, dan situasi kesehatan di Republik Indonesia berikut telah diputuskan: mencegah warga bepergian langsung atau tidak langsung ke Indonesia sampai situasi di Indonesia stabil," tulis laporan itu dilansir dari Arab News.

Oleh karena itu, Ekonom Senior Didik Junaidi Rachbini menangkap bahwa fenomena eksodus merupakan bukti ketidakpercayaan pemerintah di banyak negara terhadap Indonesia. Menurutnya, pemerintah telah gagal mengatasi persoalan Covid-19, sehingga negara lain memilih untuk selamatkan warganya.

Memang kasus Covid-19 kembali meledak di tanah air dalam sebulan terakhir. Jauh lebih besar dari yang terjadi di tahun lalu. Kasus positif saja beberapa kali mencapai di atas 30 ribu per hari.

Sementara korban meninggal dunia sudah di atas 1.000 orang per hari dalam seminggu terakhir. Meskipun tidak menutup mata dari banyaknya jumlah kasus positif yang telah dinyatakan sembuh.

Padahal, pemerintah mencoba berbagai kebijakan dengan bermacam nama. Terakhir adalah pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 1-4, yang diubah dari PPKM Darurat. 

Bagi Didik, PPKM membingungkan masyarakat, termasuk WNA. Pertimbangan ekonomi, menurutnya lebih kental ketimbang kesehatan. Begitu berbeda yang dilakukan banyak negara, di mana fokusnya adalah menghentikan penyebaran Covid-19 dan menyelamatkan nyawa yang terinfeksi.

"Seperti main-main kebijakan Covid ini. Jadi mau mendorong ekonomi tapi Covid tidak diberesin. Sama dengan beresin ember bocor, bocor tidak ditambal tapi malah diisi air. Dunia melihat itu," ujar Didik pada wartawan, beberapa waktu lalu.[]