News

Banyak Kartel Pangan, Gus Jazil Kritik Implementasi Kebijakan Pertanian

Kebijakan pertanian di Indonesia sebenarnya sudah cukup ideal. Pertanyaannya kenapa pertanian belum bisa menjadi negara agraris yang maju pertaniannya.


Banyak Kartel Pangan, Gus Jazil Kritik Implementasi Kebijakan Pertanian
Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid. (Dok. Istimewa)

AKURAT.CO Indonesia memiliki kekayaan wilayah pertanian yang luar biasa. Sayangnya, cita-cita bangsa ini untuk menjadi lumbung pangan dunia masih jauh panggang dari api. Buktinya, para petani banyak yang hidup miskin. Selain itu, komoditas pangan masih banyak yang bergantung pada impor.

Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid mengatakan, kebijakan pertanian di Indonesia sebenarnya sudah cukup ideal. Pertanyaannya kenapa pertanian Indonesia belum bisa menjadi negara agraris yang maju pertaniannya.

”Menurut saya bukan soal kebijakannya saja, tetapi implementasi dari kebijakan yang ada. Masalahnya tidak semata-mata dari undang-undang, tentang kebijakan kita. Sampai hari ini petani kita atau Indonesia belum bisa disebut sebagai negara lumbung pangan dunia padahal pangan itu sangat penting. Hari ini kedaulatan pangan petani kita belum menjadi kekuatan, belum mampu menciptakan swasembada,” ujar Gus Jazil saat memberikan sambutan pada acara Kebangkitan Tani Indonesia dalam rangka Hari Tani Nasional dan Hari Ulang Tahun ke-7 Gerakan Kebangkitan Petani dan Nelayan Indonesia (Gerbang Tani) secara virtual, Kamis (23/9/2021). 

Wakil Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini mengatakan, dulu era Orde Baru Indonesia pernah swasembada pangan. Hal ini menjadi pertanyakan ketika sekarang justru tidak bisa.

”Dulu saya pernah di Komisi IV, kita memutuskan swasembada di 5 sektor yakni gula, padi, garam, kedelai, dan jagung. Tetapi sampai hari ini juga belum selesai. Pertanyaannya ini soal ideologi, atau anggaran, atau soal pembinaan dan implementasi,” ungkapnya. 

Menurutnya, hal ini menjadi persoalan besar ketika Indonesia sebagai negara agraris namun tidak mampu mengejar cita-cita untuk swasembada di sektor pangan dan tidak mampu menaikkan indeks kesejahteraan petani. 

”Jangan berkata anggaran kita tidak cukup, tapi apakah benar semua program dan kebijakan yang sudah diputuskan itu mampu diimplementasiklan. Saya kok melihat ada banyak masalah. Lahan bermasalah, distribusi pupuk itu bermasalah, penyediaan bibit itu juga bermasalah. Bahkan petaninya pun bermasalah akhirnya karena indeks petani juga belum terlalu baik,” urainya. 

Hal lain yang menjadi soal, kata Gus Jazil, apakah masyarakat dan anak-anak muda bangga menjadi petani. Sebab, saat ini anak-anak muda justru meninggalkan sektor-sektor pertanian dan tidak bangga lagi untuk menjadi petani.

”Kalau begitu berarti ancaman kedepan kita bisa kekurangan pangan. Dan kalau kita kekurangan pangan atau ketanahan pangan kita rapuh maka negeri kita juga akan rapuh,” tuturnya.