News

Bantahan Pembunuhan Berencana Hingga Pasal Siluman di Sidang Eksepsi Kasus Sate Sianida

"Unsur sengaja membunuh Nabanya di mana itu tidak pernah ada."


Bantahan Pembunuhan Berencana Hingga Pasal Siluman di Sidang Eksepsi Kasus Sate Sianida
NA didampingi tim Kuasa Hukum di Kejaksaan Negeri Bantul, Rabu (25/8/2021) (AKURAT.CO/Kumoro Damarjati)

AKURAT.CO, Sidang lanjutan kasus sate beracun dengan terdakwa NA (25), kembali digelar di Kabupaten Bantul, DIY, Senin (27/9/2021). Melalui agenda pembacaan eksepsi atau nota keberatan, Tim Kuasa Hukum NA menolak kliennya disebut melakukan pembunuhan berencana.

Wanda Satria dari Tim Kuasa Hukum NA menyebut perbuatan NA tak memenuhi unsur kesengajaan. Sehingga dakwaan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) dianggap tak sesuai.

Wanda menyebut sate beracun yang diracik kliennya dialamatkan kepada Tomi Astanto, anggota Satreskrim Polresta Yogyakarta. Bukan untuk Naba Faiz yang akhirnya meregang nyawa karena menyantap sate dengan campuran Pottasium Cyanide (KCN) di dalamnya.

"Pasal 340 menurut kami terlalu berat tetapi dalam hal ini dalam perkara ini Pasal 340 adalah kalau dalam KUHP disebut pembunuhan berencana. Pembunuhan berencana itu harus ada unsur dengan sengaja. Dengan sengaja orang melakukan rencana dengan sengaja untuk membunuh," ujar Wanda usai sidang eksepsi.

"Dalam perkara ini NA tidak ada rencana untuk membunuh Naba. Jadi pasal tersebut unsur sengajanya di mana. Unsur sengaja membunuh Nabanya di mana itu tidak pernah ada," sambung dia.

Tim Kuasa Hukum NA dalam sidang eksepsi itu juga menyatakan keberatan terhadap Pasal 80 ayat 3 Jo Pasal 78C UU RI nomor 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak sebagai dakwaan kedua dari JPU untuk terdakwa.

Wanda menegaskan, pasal ini tidak ditemukan dalam perundang-undangan dan JPU dianggap telah melakukan kesalahan dalam menerapkan hukum terhadap terdakwa. Tim Kuasa Hukum NA menyebut kliennya telah didakwa dengan pasal siluman.

"Pasal siluman notabene 78C tidak pernah ada dalam UU perlindungan anak. Yang ada 78C dalam perubahan revisi UU Nomor 13 tahun 2002 revisi UU perlindungan anak," urai Wanda.

Sidang yang dipimpin hakim ketua Aminuddin ini akan dilanjutkan kembali pada 4 Oktober 2021 besok dengan agenda mendengar tanggapan JPU atas keberatan dari pihak terdakwa.

Diberitakan sebelumnya, NA (25), warga asli Majalengka, Jawa Barat diamankan jajaran Polres Bantul di kediamannya, Jalan Potorono, Cempokojajar, Sitimulyo, Piyungan, Bantul, Jumat (30/4/2021) lalu.

NA diduga bertanggung jawab atas meninggalnya Naba Faiz (10), warga Salakan, Bangunharjo, Sewon, Bantul, Minggu (25/4/2021). Bocah itu meregang nyawa tak lama setelah memakan sate beracun yang dititipkan NA kepada Bandiman (47), pengemudi ojek online sekaligus ayah Naba.

Hasil penyidikan memunculkan dugaan bahwa Naba jadi korban salah sasaran. Pasalnya, NA sebenarnya berniat mengirimkan paket sate beracun itu kepada Tomi, sosok yang disebut telah melukai hatinya.

NA sendiri dalam sidang perdana yang digelar 16 September 2021 lalu di PN Bantul didakwa dengan Pasal 340 KUHP. Kemudian, Pasal 338 KUHP subs 353 ayat (3) subs 351 ayat (3) KUHP. Kemudian Pasal 80 ayat (3) jo Pasal 78C UU RI Nomor 35 tentang perubahan Undang-Undang 23 2002 dan/atau Pasal 359 KUHP. []