Ekonomi

Bank Sentral Rusia Optimis Perekonomian Mereka Tumbuh 4 persen di 2024

Perkiraan tersebut menurut bank sentral Rusia telah mempertimbangkan dan memperhitungkan berdasarkan skenario kasus untuk beberapa tahun kedepan

Bank Sentral Rusia Optimis Perekonomian Mereka Tumbuh 4 persen di 2024
Bendera nasional berkibar di atas kantor pusat Bank Sentral Rusia di Moskow, Rusia 27 Mei 2022. (REUTERS/Maxim Shemetov)

AKURAT.CO Perekonomian Rusia diperkirakan akan tumbuh kembali dalam dua tahun kedepan, tepatnya pada tahun 2024, setelah dua tahun kebelakang mengalami kontraksi berturut-turut akibat sanksi dari Barat dan sekutu.

Hal tersebut disampaikan oleh deputi gubernur pertama bank sentral Rusia Alexei Zabotkin pada saat mengumumkan laporan kinerja moneter pada hari Jumat (12/8/2022). Zabotkin mengatakan kontraksi yang dialami oleh Rusia akan mencapai titik terendahnya pada tahun pertama di 2023 mendatang.

"Kontraksi ekonomi di Rusia akan mencapai titik terendah pada paruh pertama tahun 2023," kata Zabotkin, melansir dari Reuters.

baca juga:

Kemudian Alexei juga menjelaskan bahwa inflasi Rusia akan melambat ke targetnya 4 persen pada tahun 2024, yang memungkinkan bank sentral Rusia untuk menurunkan suku bunga mereka ke kisaran 5 sampai 6 persen pada tahun 2025 mendatang, turun sekitar 1 sampai 2 persen dibandingkan saat ini yang mencapai 8 persen.

"Perkembangan lebih lanjut dalam ekonomi Rusia ditandai dengan ketidakpastian substansial ... Tantangan utama di tahun-tahun mendatang adalah menciptakan kondisi untuk transformasi ekonomi yang sukses," kata laporan kinerja moneter tersebut

Suku bunga utama, instrumen utama kebijakan moneter bank sentral, akan rata-rata 6,5 persen - 8,5 persen tahun depan dan secara bertahap akan turun menjadi 6 persen - 7 persen pada tahun 2024 dan 5 persen - 6 persen pada tahun 2025.

Perkiraan tersebut menurut bank sentral Rusia telah mempertimbangkan dan memperhitungkan berdasarkan skenario kasus untuk beberapa tahun kedepan. Bank sentral Rusia juga mengungkapkan bahwa tidak ada alasan kuat untuk mempertahankan kontrol modal setelah risiko pada stabilitas keuangan negara mereda.

Selain itu, bank sentral juga diketahui akan mempertimbangkan untuk membeli mata uang dari negara sahabat seperti China, India dan Turki untuk mengisi cadangan nasionalnya.

Pertimbangan ini disampaikan oleh Bank Sentral Rusia dan lembaga tersebut mengatakan tetap berpegang pada kebijakan nilai tukar rubel mengambang bebas.

Sumber: Reuters