Ekonomi

Bandara Soetta Bakal Dapatkan Sertifikat Global Manajemen Energi

Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta akan ditargetkan mendapatkan sertifikat global ISO 50001.


Bandara Soetta Bakal Dapatkan Sertifikat Global Manajemen Energi
Para penumpang saat menunggu kedatangan pesawat di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten, Senin (23/12/2019). Puncak arus libur di Bandara Soetta akan jatuh pada 20 dan 29 Desember 2019, sedangkan puncak arus balik jatuh pada 5 Januari 2020. Selain itu, peningkatan jumlah penumpang pesawat diprediksi meningkat sebesar 2 persen dibandingkan tahun sebelumnya atau sebanyak 3,48 juta penumpang (pada periode 19 Desember 2019-6 Januari 2020). (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM bersama PT Angkasa Pura II tengah merumuskan implementasi sistem manajemen energi berstandar internasional di Bandara Soekarno-Hatta Tangerang, Banten. Penyusunan ini melibatkan MTR3-United Nations Development Programme (UNDP) dan menjadi bandara pertama di kawasan Asia Tenggara berbasis ramah lingkungan (eco-friendly).

"Ini hasil kolaborasi dengan UNDP sebagai upaya nyata menciptakan energi bersih melalui program konversi energi," kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi dalam keterangan resminya di Jakarta, Jumat (12/2/2021).

Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, sambung Agung, akan ditargetkan mendapatkan sertifikat global ISO 50001 apabila sudah menetapkan kebijakan energi, tujuan, target energi, rencana aksi dan proses yang fokus pada efisiensi energi melalui memanfaatkan energi baru dan terbarukan (EBT).

Perumusan sistem manajemen energi ini menjadi bahasan utama dalam kick off meeting bersama PT Angkasa Pura II selaku induk pengelola Bandara Soekarno-Hatta pada Kamis (11/2/2021). Perumusan ini sebagai tindak lanjut dari penandatanganan nota kesepahamam (memorandum of understanding/MoU) antara Ditjen Kementerian ESDM dan PT Angkasa Pura II tentang Penerapan Konservasi Energi dan Pemanfaatan Energi Terbarukan secara Berkelanjutan pada Bandara Udara.

Direktur Konservasi Energi Luh Nyoman Puspa Dewi mengatakan sampai saat ini di Indonesia baru terdapat 113 perusahaan yang mendapat sertifikat global ISO 50001 terdiri dari 2 sertifikat diberikan ke bangunan/gedung, 64 sertifikat ke perusahaan industri, dan 47 sertifikat ke perusahaan energi.

"Ini bertujuan mencapai penghematan energi dan penurunan gas rumah kaca. Kegiatan ini (sertifikasi ISO 50001) juga dapat berdampak pada kinerja AP II, seperti efisiensi biaya," kata Puspa.

Lebih lanjut, Puspa menuturkan konservasi energi menjadi salah satu prioritas utama bagi banyak perusahaan energi dan perusahaan milik negara di Indonesia seiring dengan upaya pemerintah untuk mendorong perusahaan mengadopsi produktivitas lebih baik dengan emisi dan limbah lebih sedikit.

President Director PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin mengatakan penerapan Sistem Manajemen Energi bersertifikat global merupakan pakem baru dalam pengembangan eco-friendly airport dan menekan biaya operasional.

"Kami perlu tata cara, strategi, dan SOP baru. Jangan mengelola hal baru dengan cara lama. Dibutuhkan cara baru untuk mempercepat penerapan eco-friendly airport di bandara AP II. Karena, penggunaan EBT secara masif sudah di depan mata. Apalagi situasi sulit di tengah pandemi ini memberi kami pembelajaran, ditemukan resep baru pengelolaan bandara yang dapat menekan biaya operasional," ujar Awaluddin saat membuka kick off meeting.