Ekonomi

Bamsoet: Pengendalian Inflasi Cegah Indonesia dari Krisis Sosial

Bamsoet: Pengendalian Inflasi Cegah Indonesia dari Krisis Sosial
Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia yang juga Ketua MPR Bambang Soesatyo memberikan kata sambutan dalam acara Rakernas dan Munaslub IMI 2021 di kawasan Senayan, Jakarta, Sabtu (29/1/2022). (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengatakan, setidaknya dunia akan melewati empat fase krisis, yakni kesehatan, ekonomi, sosial, politik. Dengan pengendalian inflasi yang memada, diyakini Indonesia mampu menghindar dari fase krisis sosial.

"Kita sudah berhasil melewati fase krisis kesehatan dengan baik, kita masuk ke krisis ekonomi, saya yakin dengan pengendalian inflasi dan pertumbuhan yang memadai, kita mampu menjaga krisis ekonomi tidak menjalar ke krisis sosial," kata Bamsoet dalam keterangannya, Minggu (27/11/2022).

Bamsoet mengatakan krisis sosial sesungguhnya dapat terjadi apabila pemerintah salah dalam mengambil keputusan atau kebijakan saat fase krisis ekonomi.

baca juga:

"Potensi krisis sosial terjadi apabila kita salah dalam mengambil keputusan ketika mengalami krisis ekonomi, misalnya kemarin salah saja pemerintah ambil kebijakan penguncian (lockdown) kita pasti bergeser ke krisis sosial. Untung pemerintah mengambil kebijakan gas rem, sehingga roda ekonomi berjalan walaupun lambat," ujarnya.

Kata Bamsoet, saat ini meskipun berada di fase krisis ekonomi, Indonesia masih berada di jalan yang seharusnya. Ia mengambil contoh kondisi di Inggris, kesalahan kebijakan menyebabkan krisis sosial seperti kelaparan dan penjarahan, sementara apabila krisis politik tercapai maka umumnya terjadi penggulingan kekuasaan.

Keempat fase krisis tersebut disampaikan Bambang Soesatyo pada studi umum peran UMKM dalam menghadapi persaingan global pasca pandemi yang digagas Universitas Terbuka di Bali.

Dalam kesempatannya, Ketua MPR RI itu membahas soal ancaman resesi global 2023 yang disebut-sebut para ekonom akan ditandai dengan bank sentral yang menaikkan suku bunga dalam menghadapi inflasi, dan adanya krisis oleh ketegangan geopolitik seperti Amerika-Tiongkok serta Rusia-Ukraina.

"Dampak resesi tidak main-main, diantaranya risiko kebangkrutan mengancam dunia usaha, hal ini dipengaruhi oleh daya beli konsumsi masyarakat yang terus menurun menyebabkan perusahaan melambat," kata dia.

Untuk itu, menurutnya perlu untuk memahami ketahanan ekonomi dalam menghadapi resesi global, lantaran ancaman resesi akan berdampak pada komunitas lainnya termasuk perekonomian Indonesia.

Bamsoet menyampaikan, meskipun pada fase krisis ekonomi ini Indonesia masih kuat, kewaspadaan perlu ada, apalagi nilai dolar terus meningkat dan Rupiah melemah.

"Jika kita refleksi pada pengalaman menghadapi resesi 2008, Indonesia dapat bertahan karena tidak tergantung pada ekspor karena memiliki potensi pasar domestik yang sangat besar, tapi sekarang terbalik harus lebih banyak mengekspor," kata dia di Gedung Utama Wisma Sabha Pemprov Bali.

Menurut dia, ekspor menjadi salah satu cara untuk menjaga perekonomian di tengah isu resesi global, Bamsoet menyebut, UMKM adalah tulang punggungnya.

"Berbagai krisis yang kita hadapi ujung-ujungnya tulang punggung kita adalah UMKM. Fakta sejarah menunjukkan bahwa krisis ekonomi pada 1998 tidak mampu mempengaruhi ekonomi kita karena kemunculan UMKM-UMKM baru sehingga krisis moneter yang merasakan hanya pengusaha besar," kata dia.

Mantan Ketua DPR RI itu mengatakan bahwa kontribusi UMKM pada perekonomian yang besar membuat pemerintah menargetkan rasio kewirausahaan agar meningkat menjadi 3,95 persen pada 2024, di mana saat ini jumlahnya di 3,47 persen. []