News

Bamsoet Pastikan DPR dan Pemerintah Kaji Ulang Pasal RKUHP Terkait Pers


Bamsoet Pastikan DPR dan Pemerintah Kaji Ulang Pasal RKUHP Terkait Pers
Ketua DPR Bambang Soesatyo saat memberikan sambutan saat peluncuran bukunya berjudul Akal Sehat di Posko Bamsoet, Menteng, Jakarta, Rabu (28/8/2019). Buku ke-15 karya politisi Partai Golkar itu bercerita tentang seputar demokrasi dan kesejahteraan. (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO, Ketua DPR RI Bambang Soesatyo memastikan pihaknya akan meninjau kembali berbagai pasal yang menjadi sorotan publik dalam Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP). Salah satunya pasal-pasal yang dianggap berpotensi menghalangi kebebasan pers sebagai pilar ke-empat demokrasi. 

Bamsoet menilai kemerdekaan pers adalah prasyarat utama bagi tumbuh kembangnya kehidupan demokrasi di Indonesia. Oleh karena itu, Bamsoet mengatakn tak mungkin DPR RI mematikan gairah jurnalistik.

"Jikapun ada pasal-pasal yang dianggap berpotensi menghambat pertumbuhan insan pers, DPR RI siap membuka pintu dialog selebarnya," ujar Bamsoet saat menerima perwakilan Dewan Pers, IJTI, AJI, PWI, LBH pers, dan LPDS, di Posko Pam Obvit DPR RI, Jakarta, Selasa (24/9/19). 

Bamsoet menjelaskan berbagai pasal yang menjadi sorotan insan pers antara lain Pasal 219 tentang Penghinaan Terhadap Presiden, Pasal 241 tentang Penghinaan Terhadap Pemerintah, Pasal 247 tentang Hasutan Melawan penguasa, Pasal 262 tentang Penyiaran Berita Bohong.

Kemudian Pasal 263 tentang Berita Tidak Pasti, Pasal 281 tentang Penghinaan Terhadap Pengadilan, Pasal 305 Tentang Penghinaan Terhadap Agama, Pasal 354 Tentang Penghinaan Terhadap Kekuasaan Umum atau Lembaga Negara, Pasal 440 Tentang Pencemaran Nama Baik, serta Pasal 446 Tentang Pencemaran Orang Mati.

Menurut Bamsoet, Komisi III DPR RI sebagai leading sector pembahasan RUU KUHP nanti bisa memanggil Dewan Pers, IJTI, AJI, LBH Pers, dan organisasi pers lainnya untuk menyerap lebih lanjut aspirasi mereka.

"Termasuk juga perwakilan pers bisa mengetahui lebih jauh latar belakang hadirnya pasal-pasal tersebut, sehingga pers tidak berburuk sangka kepada DPR RI. Dialog yang saling mencerahkan harus terjadi diantara DPR RI dengan pers. Sehingga tidak ada dustra diantara kita," tutur Bamsoet.

Politikus Golkar itu, menegaskan RUU KUHP pada dasarnya dirancang bukan untuk mengebiri hak warga negara apalagi pers. Melainkan untuk menghadirkan kepastian hukum, menguatkan harmoni kehidupan masyarakat, sehingga bisa tercipta keamanan dan ketertiban dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Berbagai pasal-pasal yang menjadi sorotan insan pers tadi, kita pastikan bukan untuk mengebiri kebebasan berpendapat maupun kemerdekaan pers. Karena pers juga punya tanggung jawab memberitakan sesuai fakta yang terjadi di lapangan, bukan mengabarkan berita hoax apalagi propaganda menyesatkan yang bisa mengadu domba rakyat," ungkap Bamsoet.

"Perumusan pasal-pasal tersebut akan kita kaji kembali dengan melibatkan insan pers, sehingga niat baik dari DPR RI dan pemerintah bisa sejalan dengan niat baik pers," imbuhnya.

Diketahui saat itu hadir antara lain Ketua Umum Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Abdul Manan, Ketua Umum Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Yadi Hendriana, Ketua Dewan Pertimbangan IJTI Imam Wahyudi, Direktur LBH Pers Ade Wahyudi, pengurus LPDS Hendrayana, Direktur PWI Pusat Edi Yoga, dan Dewan Pers Jamal Hisan.[]