News

Bamsoet: Minimnya Vaksinator di Daerah Masih Jadi Tantangan Kemenkes

Bamsoet mendorong Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersama Dinas Kesehatan di daerah untuk menambah jumlah vaksinator.


Bamsoet: Minimnya Vaksinator di Daerah Masih Jadi Tantangan Kemenkes
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo dalam acara Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru Universitas Negeri Surabaya secara daring dari Jakarta, Senin (23/8/2021).  (MPR RI)

AKURAT.CO, Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) Indonesia kembali menerima kedatangan vaksin Covid-19 tahap ke-61, yakni 1.808.040 dosis Vaksin Sinovac. Namun, minimnya ketersediaan vaksinator atau tenaga penyuntik vaksin di daerah masih menjadi tantangan.

Bamsoet mendorong Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersama Dinas Kesehatan di daerah untuk menambah jumlah vaksinator yang disesuaikan dengan kebutuhan tiap daerah, sehingga daerah dapat memperbanyak sentra pelayanan vaksinasi dan dapat merealisasikan target vaksinasi harian.

"Meminta Kemenkes agar melakukan pemerataan jumlah vaksinator di seluruh sentra vaksin di Indonesia, khususnya di wilayah yang masih rendah cakupan vaksinasinya. Mengingat hal ini penting dalam mempercepat proses pemberian vaksinasi Covid-19 guna mengejar kekebalan kelompok (herd immunity)," tutur Bamsoet dalam keterangan tertulisnya, Rabu (15/9/2021).

Bamsoet juga meminta Kemenkes bersama Dinas Kesehatan di tiap daerah agar melakukan evaluasi pelaksanaan vaksinasi Covid-19 secara berkala, agar diketahui solusi dari setiap kendala ataupun hambatan yang terjadi pada pelaksanaan vaksinasi di masing-masing daerah.

"Meminta komitmen pemerintah untuk terus berupaya merealisasikan target vaksinasi Covid-19 yang sudah ditetapkan, di samping memperluas cakupannya dan memastikan pendistribusian vaksin Covid-19 dilakukan secara merata ke seluruh daerah," tuturnya.

Selain itu, Bamsoet menyoroti munculnya opsi vaksin covid-19 sebagai booster atau suntikan ketiga dapat dibeli oleh masyarakat umum mulai 2022.

Dia berharap Kemenkes tidak menyampaikan opsi vaksin booster saat ini, sebaiknya pemerintah berfokus saja pada penuntasan program vaksinasi Covid-19 pertama dan kedua yang saat ini masih belum mencapai target. Mengingat masih adanya masyarakat bahkan tenaga kesehatan/nakes yang masih belum tuntas divaksin dikarenakan kurangnya stok vaksin maupun penyebab lainnya.

Bamsoet juga mengimbau pemerintah untuk mengkaji secara mendalam opsi pemberian vaksin booster.

"Jika hal tersebut sudah ditetapkan pelaksanaannya di tahun 2022 maka seharusnya pemerintah mengupayakan pemberian booster atau suntikan ketiga vaksin diberikan secara gratis kepada seluruh masyarakat Indonesia. Karena hal tersebut seharusnya menjadi hak bagi masyarakat untuk mendapatkan perlindungan kesehatan yang maksimal, dikarenakan status covid-19 telah ditetapkan sebagai pandemi oleh karenanya wajib diberantas dan ditanggulangi oleh pemerintah tanpa harus membebani masyarakat," tuturnya.

Selain itu, Bamsoet mendorong Kemenkes memperjelas urgensi booster atau suntikan ketiga, terutama keterkaitannya dengan penguatan vaksin pertama dan kedua dan dengan isu-isu kesehatan lainnya. "Dikarenakan pemberian vaksin  booster tahun 2022 nantinya hanya dapat digratiskan bagi 91,8 juta jiwa bagi peserta Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial/BPJS Kesehatan yang termasuk dalam golongan penerima bantuan iuran/PBI, sehingga untuk masyarakat lainnya harus mengeluarkan biaya jika mau mendapatkan vaksin tersebut," pintanya.[TIM]