News

'Balas Dendam', Rusia Ikut Usir 20 Diplomat Ceko dari Negaranya

Sehari sebelumnya, Ceko mendepak 18 diplomat Rusia dan memberi waktu hingga 72 jam untuk hengkang.


'Balas Dendam', Rusia Ikut Usir 20 Diplomat Ceko dari Negaranya
Para diplomat Ceko yang diusir harus meninggalkan Rusia sebelum 19 April 2021 (Reuters/David W Carny)

AKURAT.CO, Masalah ledakan depot amunisi Ceko pada 2014 ternyata berhasil memperuncing hubungan Rusia dan Republik Ceko. Pasalnya, gara-gara persoalan ini, kedua negara saling melakukan aksi pengusiran para diplomat negara. 

Sebagaimana diwartakan Al Jazeera hingga DW, Rusia mengusir 20 diplomat Ceko pada Minggu (18/4) dan memberikan waktu 24 jam kepada para pejabat untuk meninggalkan Kremlin.

Sementara, sehari sebelumnya, Ceko mendepak 18 diplomat Rusia dan memberi waktu hingga 72 jam untuk hengkang. Bersamaan dengan itu, Praha juga menuduh bahwa ledakan gudang amunisi Ceko 2014 ada kaitannya dengan dua mata-mata asal Rusia.

Disebutkan pula bagaimana dua agen tersebut ikut tersangkut dalam aksi peracunan mantan agen ganda Rusia Sergei Skripal di Inggris tahun 2018.

Menanggapi itu, Rusia pun langsung melancarkan protes dan menggambarkan langkah Praha sebagai 'hal yang tidak masuk akal'. Mereka juga menekankan bahwa pengusiran oleh Ceko itu 'belum pernah terjadi sebelumnya'.

Setelahnya yang terjadi adalah 'aksi balas dendam' Kremlin dengan cara ikut mengusir para diplomat Ceko.

"Kami akan mengambil tindakan pembalasan yang akan memaksa dalang provokasi ini untuk memahami tanggung jawab penuh karena telah menghancurkan dasar hubungan normal antara negara kami," kata Kementerian Luar Negeri Rusia dalam sebuah pernyataan pada Minggu kemarin.

Tak hanya itu, Rusia juga mengklaim bahwa aksi Ceko ini ada kaitannya dengan Washington, dan Praha hanya ingin menyenangkan Amerika Serikat (AS).

"Keinginan mereka untuk menyenangkan AS yang telah menjatuhkan sanksi terhadap Rusia, dalam hal ini otoritas Ceko bahkan mengalahkan tuannya dari jauh," tambah Kementerian Luar Negeri Rusia.

Pada pekan lalu, AS memang mengumumkan sanksi dan pengusiran 10 diplomat Rusia sebagai pembalasan atas campur tangan Kremlin dalam pemilu, peretasan dunia maya, dan aktivitas permusuhan lainnya.

Sementara, Ceko sendiri juga telah mengakui bahwa mereka mencurigai Rusia sebagai dalang di balik ledakan gudang yang menewaskan dua orang 2014 silam. Kecurigaan Ceko ini bahkan sudah disampaikan Ceko kepada NATO serta sekutu Uni Eropa (UE).

Setelahnya, dukungan ramai-ramai diberikan untuk Ceko.

Menteri luar negeri UE misalnya, langsung menanggapi dengan mengumumkan diadakannya pertemuan pada Senin (19/4) demi membahas masalah ledakan tersebut.

Seorang pejabat NATO juga telah memberi komitmen untuk menyelidiki kasus ledakan yang menurutnya adalah bentuk 'aktivitas jahat dari Rusia'.

AS, Polandia, hingga Inggris juga diketahui ikut mendukung sikap tegas Praha kepada Rusia.

"AS mendukung Republik Ceko dalam tanggapan tegasnya terhadap tindakan subversif Rusia di tanah Ceko. Kita harus bertindak tegas dalam menanggapi tindakan Rusia yang membahayakan integritas teritorial, keamanan energi, atau infrastruktur penting dari sekutu dan mitra kita," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Ned Price melalui Twitternya.

"Solidaritas sekutu dan tindakan cepat membuat kami kuat," kata Kementerian Luar Negeri Polandia di Twitter.

"Ceko telah mengungkapkan sejauh mana GRU (Direktorat Intelijen Utama Rusia) akan melakukan operasi berbahaya dan upaya fitnah," tambah Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab.

Namun, terlepas dari dukungan Barat, perselisihan ledakan gudang adalah yang terbesar antara Praha dan Moskow sejak akhir dekade dominasi Soviet di Eropa timur tahun 1989 silam.

Ini juga menambah ketegangan antara Rusia dan Barat, yang sebagian sudah rusak karena pembangunan militer Kremlin di perbatasan Barat dan di Krimea. Sementara seperti diketahui, Kremlin sebelumnya telah dianeksasi Moskow dari Ukraina pada tahun 2014.[]

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu