News

Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra Wyata Guna Bakal Assessment Mahasiswa Eks Penghuni


Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra Wyata Guna Bakal Assessment Mahasiswa Eks Penghuni
Kepala BRSPDSN Wyata Guna Sudarsono (dua dari kanan) memberikan keterangan terkait polemik yang tengah terjadi, Jumat (17/1). (AKURAT.CO/Avila Dwi Putra)

AKURAT.CO, Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra Wyata Guna memersilahkan mahasiswa tunanetra yang ingin kembali tinggal di asrama. Namun begitu, akan dilakukan assessment terhadap para mahasiswa tersebut, apakah masih membutuhkan pelayanan di balai yang dikelola oleh Kementerian Sosial ini.

Kebijakan ini keluar seiring protes dari 32 orang mahasiswa tunanetra yang merasa diusir dari balai, karena dianggap sudah tidak memiliki hak mendapatkan pelayanan.

Kepala BRSPDSN Wyata Guna Sudarsono menegaskan, tidak ada pengusiran yang dilakukan pihaknya kepada sejumlah mahasiswa tersebut. Yang sebenarnya terjadi adalah penerima manfaat layanan, yakni mahasiswa tunanetra, sudah memasuki tahap terminasi atau akhir layanan.

“Seperti diketahui balai fungsinya pembinaan bersifat sementara bagi saudara penerima manfaat, bukan tempat permanen. Ini proses normal dan sudah dipahami sejak penerima manfaat menjadi binaan di balai,” ucapnya, dalam jumpa pers, di BRSPDSN Wyata Guna, Kota Bandung, Jumat (17/1/2020).

Pada tahap terminasi, diterangkan dia, penerima manfaat yang mendapatkan pelayanan dan pembinaan terikat oleh ketentuan harus kembali ke keluarga dan masyarakat. Terlebih, masih banyak orang yang mengantre untuk masuk ke balai.

“Pada Januari, proses penerimaan penerima manfaat. Ada proses assessment, mereka dari Kalimantan maupun Jawa,” ungkap Sudarsono.

Mahasiswa yang sudah mengakhiri pelayanan, namun belum kembali ke keluarga, bisa masuk ke asrama panti milik Dinas Sosial Jawa Barat, di Cibabat, Kota Cimahi.

“Solusi terakhir, pihak balai menyediakan asrama khusus di Wyata Guna untuk mereka yang masih membutuhkan layanan. Dengan catatan kami meng-assessment kembali anak penerima manfaat yang sudah keluar,” aku dia.

Assessment yang dilakukan BRSPDSN Wyata Guna guna mengetahui apakah mahasiswa bersangkutan masih aktif kuliah dan membutuhkan pelayanan. Saat ini, terdapat 23 orang eks penghuni asrama yang masih bertahan di trotoar di depan BRSPDSN Wyata Guna.

Sudarsono menegaskan, tidak ada pemindahan atau penutupan sekolah di Wyata Guna, lantaran sejak awal komitmen yang dibangun adalah pinjam pakai.

“Balai Wyata Guna tengah dalam proses revitalisasi fungsional menuju standar internasional, yang sistem pelayanannya bertujuan satu, yakni mengoptimalkan manfaat kepada penerima manfaat. Sehingga, penerima manfaat bisa lebih berdaya dan mandiri,” bebernya.

Kepala Dinas Sosial Jabar Dodo Suhendra menyatakan siap menampung para mantan penghuni Wyata Guna. Dia mengklaim, kapasitas asrama di Panti Sosial Rehabilitasi Penyandang Mental Sensorik Netra, Rungu, Wicara, Tubuh milik Pemerintah Provinsi Jabar, bisa menampung penghuni hingga 100 orang.

“Kita bakal mengoptimalkan kapasitas hingga 150 orang. Di sana juga ada tempat ibadah, pelatihan, ruang pertemuan, juga ruang keterampilan sesuai minat dan bakat,” terangnya.

Di tempat sama, Wakil Ketua Komisi V DPRD Jabar Abdul Hadi Wijaya meminta kepada eks penghuni pantu untuk bersabar, mengingat pemerintah pusat telah mengambil langkah yang positif guna menampung aspirasi mereka.

“Kita sabar sedikit, kasih kesempatan kepada pemerintah pusat untuk membenahi semuanya dan menyiapkan fasilitas-fasilitas penunjang. Karena yang bakal menikmati adalah masyarakat, khususnya Kota Bandung,” cetus Hadi. (*)