Ekonomi

Bahlil Beberkan Investasi Energi Terbarukan, Capai Hingga Rp219 Triliun!

setelah kesepakatan yang sudah di teken pada awal 2022, akan mengalirkan investasi US$15 miliar atau setara Rp219 triliun


Bahlil Beberkan Investasi Energi Terbarukan, Capai Hingga Rp219 Triliun!
Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi VI di Nusantara I, Kompleks Parlemen MPR/DPR-DPD, Senayan, Jakarta, Senin (31/1/2022). (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengungkap apa saja investasi yang mengalir dari kerja sama dengan Air Product.

Bahlil Lahadalia mengatakan setelah kesepakatan yang sudah di teken pada awal 2022, akan mengalirkan investasi US$15 miliar atau setara Rp219 triliun (kurs Rp14.600) untuk 3 proyek penting.

" Pertama proyek DME di Sumatera Selatan, konstruksi sudah berjalan. Kedua, metanol dengan KPC (Kaltim Prima Coal) di Kalimantan Timur, sementara yang ketida ialah proyek methanol dan ethanol di Cepu. Ini bapak presiden untuk membangun hilirisasi produknya bisa menjadi substitusi impor," kata Bahlil, dikutip dari kanal YouTube Sekretariat Presiden, Sabtu (14/5/2022).

baca juga:

Sedangkan untuk proyek DME (Dimethyl Ether) menurut Bahlil, ia menargetkan sekitar 50 persen dari hasil tersebut harus bisa diproses di dalam negeri, demi mengurangi subsidi LPG yang tiap tahunnya menguras pendapatan negara sampai triliunan rupiah.

Dilihat dari data yang dimiliki oleh Pertamina, Indonesia melakukan impor LPG sekitar 7-8 juta ton per tahun. Dari sini, Ketua BKPM ini mengatakan bila subsidi untuk per 1 juta ton LPG bisa mencapai kurang lebih Rp13 triliun.

"Bisa dibayangkan dikalikan 6-7 juta total subsidi kita pada gas LPG kita Rp80 triliun-90 triliun. Bapak presiden memerintahkan kepada kami, agar Air Product betul-betul fokus membangun hilirisasi DME dan metanol. Khusus untuk methanol 80 persen kebutuhan kita masih impor," jelasnya.

Dari pertemuan yang dilakukan oleh Presiden dan CEO Air Product Ghelil Saifi, Bahlil mengatakan bahwa Air Product tak menutup kemungkinan untuk bisa mengelola bendungan-bendungan yang dimiliki Indonesia.

Pengelolaan bendungan itu untuk dibuatkan menjadi sumber hidrogen. Investasi tersebut bisa bernilai US$3 miliar yang mana hasil tersebut di luar rencana US$15 miliar untuk 3 proyek yang sebelumnya telah disebutkan.

"Ini sebuah potensi negara kita yang belum dimaksimalkan. Secara kebetulan, untuk hidrogen, Air Products, salah satu perusahaan terbesar dunia yang punya teknologi cukup luar biasa untuk mengembangkan ini dan tidak perlu dikhawatirkan," pungkasnya.[]