Ekonomi

Bahaya, Pertamina Berpotensi Merugi Besar Gara-gara Harga Jual Pertalite!

Harga Pertalite harus dinaikkan sebab jika tidak, akan berdampak buruk bagi keuangan Pertamina bahkan berpotensi merugi besar


Bahaya, Pertamina Berpotensi Merugi Besar Gara-gara Harga Jual Pertalite!
Petugas melayani konsumen saat membeli bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di salah satu SPBU Pertamina di Jakarta, Rabu (18/11/2020). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO, Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia (EWI) Ferdinand Hutahaean menilai, harga Pertalite harus dinaikkan sebab jika Pertamina terus menjualnya dengan harga saat ini maka akan berdampak buruk bagi keuangan BUMN tersebut, bahkan berpotensi merugi besar.

"Harga Pertalite harus dinaikkan. Apalagi harga jual BBM Pertamina masih berada di bawah harga BBM milik asing. Jika tidak, akan berdampak buruk karena memukul keuangan Pertamina," katanya, dilansir dari Antara, Kamis (28/10/2021).

Ia berpendapat, dari setiap liter Pertalite yang dijual tersebut Pertamina menanggung kerugian terus-menerus. Oleh karena itu, menurutnya, apabila BUMN migas itu merugi, maka berpotensi mengurangi kontribusi Pertamina ke kas negara dan juga masyarakat.

Dia mengungkapkan, pada tahun lalu Pertamina menyumbang hampir Rp200 triliun kepada keuangan negara. Selain itu dalam masa pandemi, kontribusi perusahaan juga sangat banyak, termasuk di antaranya, membangun rumah sakit khusus Covid-19 dan penyaluran oksigen medis.

Ferdinand menyatakan, Pertamina harus menanggung beban atas penjualan Pertalite saat ini, sebab biaya produksi sangat tinggi tetapi menjual dengan harga di bawah keekonomian dengan selisih sangat besar, sekitar Rp3 ribu per liter.

Hal itu terjadi karena harga sekarang masih dihitung dengan menggunakan ICP sekitar US$45. Sedangkan di sisi lain, harga minyak dunia terus naik, bahkan tergolong tertinggi, dengan dua kali melampaui harga ICP.

Jika harga BBM terus dipertahankan di bawah harga keekonomian, lanjutnya, maka pada titik tertentu Pertamina dipastikan akan mengalami kerugian.

“Keuangan mereka akan tergerus untuk menutupi kerugian-kerugian yang terjadi akibat penjualan BBM yang tidak sesuai dengan harga keekonomian,” ujar Ferdinand.

Jika sudah mengalami kerugian, Pertamina akan sulit menutupi biaya operasional yang pada akhirnya akan menjadi beban bagi pemerintah.