Ekonomi

Bahaya! Lagi, Ekonomi Indonesia Tahun Ini Diramal Minus Hingga Resesi

Bhima memperkirakan Indonesia akan kembali resesi jika penanganan COVID-19 dan PPKM tak kunjung usai.


Bahaya! Lagi, Ekonomi Indonesia Tahun Ini Diramal Minus Hingga Resesi
Dana Moneter Internasional (IMF) mengoreksi ke bawah pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 3,9% tahun 2021. (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO Dana Moneter Internasional (IMF) mengoreksi ke bawah pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 3,9% tahun 2021 ini. Hal tersebut didukung berdasarkan laporan World Economic Outlook terbaru edisi Juni 2021.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai dengan tekanan mobilitas akibat pandemi dan pembatasan sosial maka ekonomi bukan hanya diproyeksi tumbuh 3,9%, tapi ekonomi bisa diproyeksi tumbuh dikisaran -0,5% hingga 2%.

“Ini mempertimbangkan faktor downside risk akibat lambatnya pemulihan ekonomi karena pandemi. Kemungkinan terburuk masih akan terjadi resesi di 2021,” katanya kepada Akurat.co, Kamis (29/7/2021).

Bahkan, Bhima memperkirakan Indonesia akan kembali resesi jika penanganan Covid-19 dan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarat (PPKM) tak kunjung usai.

“Kontraksi ekonomi diperkirakan bisa dalam dan kembali ke pertumbuhan negatif atau resesi jika penanganan pandemi dan pembatasan sosialnya berlarut larut,” ungkapnya.

Disisi lain, pemulihan juga bergantung pada seberapa cepat vaksinasi dilakukan dan seberapa cepat realisasi anggaran belanja pemerintah di sisa kuartal ke III dan IV.

“Waktu tidak banyak, jika PPKM berlanjut di kuartal ke IV tentu seluruh variabel ekonomi akan melemah khususnya konsumsi rumah tangga dan investasi,” jelasnya.

Hal ini karena daya beli masyarakat kembali tertekan setelah terdapat pemulihan semu di semester I. Kelas menengah dan atas memutuskan untuk menunda belanja akibat pembatasan mobilitas.

Meski ada peluang di sisi ekspor, kata Bhima, karena naiknya permintaan negara seperti China dan AS tapi outlook global pun tidak setinggi perkiraan awal. Bayangan varian delta menjadi penghambat di negara tujuan ekspor utama.

“Tidak sedikit negara yang kembali lakukan lockdown karena ganasnya varian delta. ini turut berpengaruh ke motor pertumbuhan yang berasal dari ekspor serta industri manufaktur,” tambahnya.

Sebelumnya, proyeksi IMF tersebut lebih rendah 40 basis points (bps) bila dibandingkan dengan perkiraan lembaga donor tersebut pada edisi April 2021.

Sementara untuk tahun 2022, ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh 5,9%. Indonesia tidak menjadi satu-satunya negara di kawasan Asia Tenggara yang mengalami revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi.

IMF juga mengoreksi ke bawah perkiraan pertumbuhan ekonomi Filipina dan Malaysia. Pada April lalu, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Malaysia di kisaran 5,5%.

Namun, pada proyeksi bulan ini, pertumbuhan ekonomi Malaysia sepanjang tahun 2021 terkoreksi menjadi di kisaran 4,7%.

Sementara Filipina, yang sebelumnya diperkirakan mampu tumbuh hingga 6,9% di tahun 2021 ini, dikoreksi menjadi sebesar 5,4%.

Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi untuk negara berkembang pun mengalami revisi ke bawah sebesar 0,4%.[]