News

Bahaya Krisis Air dan Kekeringan Intai Suriah dan Irak, 12 Juta Nyawa Manusia Terancam

"Kiamat produksi air dan pangan bagi jutaan warga Suriah dan Irak sudah dekat," kata Carsten Hansen, direktur regional Dewan Pengungsi Norwegia.


Bahaya Krisis Air dan Kekeringan Intai Suriah dan Irak, 12 Juta Nyawa Manusia Terancam
Lebih dari 5 juta orang di Suriah yang bergantung pada air sungai terdampak langsung oleh memburuknya krisis air. (Foto: REUTERS) ()

AKURAT.CO Lebih dari 12 juta orang di Suriah dan Irak kehilangan akses air, makanan, dan listrik, menurut laporan 13 kelompok bantuan. Mereka pun mendesak tindakan segera untuk memerangi krisis air yang parah.

Dilansir dari Al Jazeera, Suriah saat ini menghadapi kekeringan terburuk dalam 70 tahun. Naiknya suhu, rekor tingkat curah hujan yang rendah, dan kekeringan pun membuat masyarakat di seluruh negeri kehilangan akses air untuk minum dan pertanian, menurut laporan yang diterbitkan pada Senin (23/8).

Laporan ini disusun oleh sekelompok organisasi internasional, termasuk Dewan Pengungsi Norwegia, Dewan Pengungsi Denmark, CARE, Action Against Hunger, dan Mercy Corps. Mereka memperingatkan bahwa suhu yang lebih tinggi akibat perubaha iklim meningkatkan risiko dan parahnya kekeringan di sana.

Perubahan iklim juga mengganggu listrik lantaran bendungan kehabisan air. Hal ini lantas berdampak pada pengoperasian infrastruktur penting, termasuk fasilitas kesehatan.

"Kiamat produksi air dan pangan bagi jutaan warga Suriah dan Irak sudah dekat. Dengan ratusan ribu warga Irak masih mengungsi dan lebih banyak lagi yang melarikan diri demi nyawa mereka di Suriah, krisis air ini akan segera menjadi bencana yang belum pernah terjadi sebelumnya dan mendorong lebih banyak pengungsi," kata Carsten Hansen, direktur regional Dewan Pengungsi Norwegia.

Tak sampai di situ, situasi ini diperparah oleh pandemi virus corona.

"Situasi ini menuntut otoritas bertindak cepat demi menyelamatkan nyawa dalam krisis terbaru akibat konflik, Covid-19, dan anjloknya ekonomi. Dalam jangka panjang, selain makanan dan air minum, mereka perlu berinvestasi dalam solusi berkelanjutan untuk krisis air," tutur Nirvana Shawky, direktur regional CARE di Timur Tengah dan Afrika Utara.

Sejak musim gugur 2020, rendahnya curah hujan di seluruh teluk Mediterania timur telah berkontribusi pada kekeringan di Suriah dan Irak, menurut laporan PBB pada bulan Juni. Krisis air ini diperparah dengan semakin berkurangnya aliran air di Sungai Efrat selama berbulan-bulan. Debitnya turun dari 500 meter kubik per detik pada Januari menjadi 214 meter kubik per detik pada Juni 2020, menurut PBB.

Laporan itu pun menyebut lebih dari 5 juta orang di Suriah yang bergantung pada air sungai terkena dampak langsung dari krisis air. Pasalnya, ratusan kilometer lahan pertanian terancam kekeringan total.

Pada saat yang sama, 2 bendungan di Suriah utara tak lama lagi ditutup. Akibatnya, sekitar 3 juta orang terancam kehilangan akses listrik.

Sejak penurunan ketinggian air, masyarakat di beberapa daerah di seluruh Suriah, termasuk Hassakeh, Aleppo, Raqqa dan Deir Az Zor, dilanda merebaknya wabah penyakit yang ditularkan melalui air, seperti diare. Puluhan penduduk desa di Al Sebat, 30 km dari Hassakeh, pun pergi ke daerah lain karena kekeringan.

Suriah menempati peringkat ke-7 pada indeks risiko global dari 191 negara yang paling terancam bencana kemanusiaan atau alam. Sebagian disebabkan oleh krisis yang sedang berlangsung.

Sementara itu, di Irak, banyak lahan pertanian, perikanan, produksi listrik, dan sumber air minum kehabisan air. Akibatnya, setidaknya 7 juta nyawa terancam, menurut laporan tersebut.

Di provinsi Niniwe, produksi gandum diperkirakan turun 70 persen akibat kekeringan. Sementara itu, di wilayah Kurdi, hasil panen Irak diperkirakan turun setengahnya.

Sejumlah keluarga di provinsi Anbar yang tak punya akses ke air sungai pun menghabiskan hingga USD 80 per bulan (Rp1,1 juta) untuk air. Jumlah itu tak terjangkau bagi sebagian besar keluarga.

Irak, yang bergantung pada sungai Tigris dan Efrat untuk hampir semua airnya, sering berselisih soal masalah air.

Direktur Regional Timur Tengah Dewan Pengungsi Denmark Gerry Garvey lantas memperingatkan krisis air pasti akan semakin buruk. Pada gilirannya, situasi ini dapat menyebabkan kawasan itu semakin tidak stabil.

"Kemungkinan konflik akan meningkat. Jangan ada waktu untuk disia-siakan. Kita harus menemukan solusi berkelanjutan yang akan menjamin air dan makanan saat ini dan untuk generasi mendatang," saran Garvey.

Dengan suhu di teluk Mediterania yang diprediksi naik di tahun-tahun mendatang dan kelangkaan air diperkirakan akan terus berlanjut, PBB memperingatkan peristiwa iklim ekstrem seperti kekeringan kemungkinan akan menjadi lebih sering dan intens, menurut laporannya pada bulan Juni.[]