Rahmah

Bahaya! 3 Kali Tinggalkan Salat Jumat Dihukumi Munafik

Siapa saja yang meninggalkan tiga kali ibadah shalat Jumat tanpa uzur, niscaya ia ditulis sebagai orang munafik


Bahaya! 3 Kali Tinggalkan Salat Jumat Dihukumi Munafik
Jamaah melaksanakan ibadah salat Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (11/2/2022). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO Berbeda dari hari-hari biasanya, saat hari Jumat umat muslim laki-laki yang sudah memenuhi syarat diwajibkan untuk melaksanakan salat Jumat secara berjamaah. Dasar kewajiban ini di antaranya disampaikan dalam firman Allah SWT berikut,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya, “Wahai orang yang beriman, bila diseru shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah menuju zikrullah (shalat Jumat) dan tinggalkan aktivitas jual-beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya.” (Surat Al-Jumu‘ah ayat 9)

baca juga:

Dalam realita yang terjadi, ada saja muslim yang meremehkan kewajiban ini. Padahal, sebagaimana dilansir NU Online, orang yang meninggalkan salat Jumat sampai tiga kali dengan sengaja, tanpa ada uzur atau halangan, maka dia tercatat sebagai orang yang munafik. Dijelaskan dalam hadis Nabi,

من ترك ثلاث جمعات من غير عذر كتب من المنافقين

Artinya, “Siapa saja yang meninggalkan tiga kali ibadah shalat Jumat tanpa uzur, niscaya ia ditulis sebagai orang munafik.” (HR At-Thabarani)

Bukan saja tergolong sebagai orang munafik, Allah SWT juga akan menutup hatinya. Jika hati sudah tertutup maka akan sulit menerima nasihat, malas melakukan ibadah, sulit berbuat kebaikan, dan sebagainya. Dalam hadis disebutkan,

من ترك الجمعة ثلاث مرات تهاونا بها طبع الله على قلبه

Artinya, “Siapa meninggalkan tiga kali shalat Jumat karena meremehkan, niscaya Allah menutup hatinya,” (HR At-Turmudzi, At-Thabarani, Ad-Daruquthni).

Maksud kata “meremehkan” pada hadis di atas adalah pelaku meninggalkan salat Jumat memang karena malas, tidak ada uzur atau halangan yang dialaminya. Hal ini berlaku jika ditinggalkan secara berturut-turut sampai tiga kali.

Imam Ar-Ramli dalan Niahayatul Muhtaj (6/450) menjelaskan,

قَوْلُهُ (مَنْ تَرَكَ ثَلَاثَ جُمْعٍ تَهَاوُنًا) أَيْ بِأَنْ لَا يَكُونَ لِعُذْرٍ وَلَا يَمْنَعُ مِنْ ذَلِكَ اعْتِرَافُهُ بِوُجُوبِهَا وَأَنَّ تَرْكَهَا مَعْصِيَةٌ، وَظَاهِرُ إطْلَاقِهِ أَنَّهُ لَا فَرْقَ فِي ذَلِكَ بَيْنَ الْمُتَوَالِيَةِ وَغَيْرِهَا، وَلَعَلَّهُ غَيْرُ مُرَادٍ وَإِنَّمَا الْمُرَادُ الْمُتَوَالِيَةُ (قَوْلُهُ : طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ) أَيْ أَلْقَى عَلَى قَلْبِهِ شَيْئًا كَالْخَاتَمِ يَمْنَعُ مِنْ قَبُولِ الْمَوَاعِظِ وَالْحَقِّ

Artinya, “(Siapa meninggalkan tiga kali shalat Jumat karena meremehkan) dalam arti tidak ada uzur. Pengakuan atas kewajiban Jumat tidak menghalanginya dari konsekuensi tindakannya. Tindakan meninggalkan Jumat adalah maksiat. Secara zahir kemutalakannya bahwa tidak ada perbedaan antara meninggalkan berturut-turut atau tidak.”

“Tetapi bisa jadi bukan itu yang dimaksud. Yang dimaksud adalah ‘berturut-turut’ (niscaya Allah menutup hatinya) Allah menyegel hatinya dengan sesuatu seperti cincin yang dapat menghalanginya dari nasihat dan kebenaran.”[]

Sumber: NU Online