Rahmah

Bagaimana Hukumnya Mengunjungi Candi Bagi Umat Islam? Ini Penjelasan MUI

Bagaimana hukumnya seorang Muslim yang datang ke candi? 


Bagaimana Hukumnya Mengunjungi Candi Bagi Umat Islam? Ini Penjelasan MUI
Suasana pesona wisata Candi Barong di Sambirejo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta, Kamis (14/6). Candi Barong merupakan candi bercorak Hindu yang terletak di tenggara Kompleks Situs Candi Ratu Boko. Candi ini diperkirakan dibangun pada sekitar abad ke-9 dan ke-10, sebagai peninggalan Kerajaan Medang periode Mataram. (AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo)

AKURAT.CO Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam suku, bahasa, budaya dan juga agama. Karena itu, banyak tempat-tempat ibadah dari beberapa agama yang bisa didatangi di setiap kotanya. Diantaranya adalah bangunan candi yang merupakan tempat ibadah umat Buddha.

Lantas bagaimana hukumnya seorang Muslim yang datang ke candi? 

Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur KH Ma'ruf Khozin mengatakan, mendatangi tempat ibadah agama lain memiliki banyak pendapat dari para ulama lintas Mazhab. Sebab pada umumnya, seseorang yang datang ke Candi bukan untuk tujuan masuk ke tempat ibadah, melainkan bisa jadi karena ingin melihat keunikan bangunan, mempelajari sejarah atau lainnya. 

baca juga:

"Tapi bagaimana pun tetap ada Candi yang dijadikan sebagai tempat sesembahan agama lain. Silakan, boleh ikut pendapat yang mengatakan haram secara mutlak atau pendapat yang membolehkan," ujarnya seperti dikutip laman resmi MUI Jatim, Senin (16/5/2022).

"Seperti biasanya, saya lebih suka menyeimbangkan informasi. Jika ada yang mengatakan haram padahal ada pendapat yang boleh maka saya sampaikan pendapat tersebut," imbuhnya.

Kiai Khozin lalu mengutip pendata Syekh Ibnu Muflih dari Mazhab Hambali yang menulis perinciannya sebagai berikut:

ﻭﻟﻪ ﺩﺧﻮﻝ ﺑﻴﻌﺔ ﻭﻛﻨﻴﺴﺔ ﻭﻧﺤﻮﻫﻤﺎ ﻭاﻟﺼﻼﺓ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻭﻋﻨﻪ، ﻳﻜﺮﻩ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺛﻢ ﺻﻮﺭﺓ، ﻭﻗﻴﻞ: ﻣﻄﻠﻘﺎ

Dengan demikian, seseorang boleh masuk ke tempat ibadah Yahudi, Nasrani dan lainnnya. Juga boleh salat di dalamnya. Diriwayatkan dari Ahmad bin Hambal bahwa hal itu makruh jika di dalamnya ada gambarnya. Ada lagi pendapat yang mengatakan makruh secara mutlak baik ada gambarnya atau tidak ( Al-Adab Asy-Syariyah, 3/341).

Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah An-Nisa ayat 140:

وَقَدۡ نَزَّلَ عَلَيۡكُمۡ فِى الۡـكِتٰبِ اَنۡ اِذَا سَمِعۡتُمۡ اٰيٰتِ اللّٰهِ يُكۡفَرُ بِهَا وَيُسۡتَهۡزَاُبِهَا فَلَا تَقۡعُدُوۡا مَعَهُمۡ حَتّٰى يَخُوۡضُوۡا فِىۡ حَدِيۡثٍ غَيۡرِهٖۤ‌ ‌ ۖ اِنَّكُمۡ اِذًا مِّثۡلُهُمۡ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ جَامِعُالۡمُنٰفِقِيۡنَ وَالۡكٰفِرِيۡنَ فِىۡ جَهَـنَّمَ جَمِيۡعَا

Wa qad nazzala 'alaikum fil Kitaabi an izaa sami'tum Aayaatil laahi yukfaru bihaa wa yustahza u bihaa falaa taq'uduu ma'ahum hattaa yakhuuduu fii hadiisin ghairih; innakum izam misluhum; innal laaha jaami'ul munaafiqiina wal kaafiriina fii jahannama jamii

Artinya: "Dan sungguh, Allah telah menurunkan (ketentuan) bagimu di dalam Kitab (Al-Qur'an) bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk bersama mereka, sebelum mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena (kalau tetap duduk dengan mereka), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sungguh, Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di neraka Jahanam,". Wallahu A'lam Bishawab. []