Rahmah

Bagaimana Hukum Orang yang Mampu Tapi Tidak Berkurban?

Hukumnya bisa mendekati dosa.

Bagaimana Hukum Orang yang Mampu Tapi Tidak Berkurban?
Pekerja memberi makan sapi kurban. (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO Kurban hanya diperuntukan bagi mereka yang mampu dan memiliki kelebihan harta setelah memenuhi kebutuhannya. Baik memenuhi kebutuhan dirinya maupun keluarganya.

Ibadah kurban merupakan ibadah yang disunnahkan oleh Nabi Muhammad SAW. Bahkan, ibadah ini masuk dalam kategori ibadah sunah mu'akkadah.

Dalam riwayat Imam al-Tirmidzi disebutkan sabda Nabi:

baca juga:

أُمِرْتُ بِالنَّحَرِ وَهُوَ سُنَّةٌ لَكُمْ

Artinya: "Aku diperintahkan berkurban, dan hal tersebut sunah bagi kalian". (HR al-Tirmidzi).

Ada banyak dalil yang menguatkan akan disunahkannya ibadah kurban. Selain disebutkan di dalam Al-Qur'an, hadits Nabi pun banyak menyebutkan demikian. Misalnya, hadits Ummu Salamah yang menyebutkan bahwa Nabi bersabda:

 إِذَا رَأَيْتُمْ هِلَالَ ذِيْ الْحِجَّةِ  وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ، فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعَرِهِ وَأظْفَارِهِ

Artinya: "Bila kalian melihat hilal Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian menghendaki berkurban, maka tahanlah rambut dan kukunya (untuk tidak dipotong)". (HR Muslim dan lainnya).

Meski demikian, ada sebagian ulama yang mewajibkan berkurban bagi siapa saja yang mampu. Pandangan ini adalah pandangan Abu Hanifah. 

Syekh al-Imam al-Nawawi berkata dalam kitab Al-Majmu, jilid 9, halaman 290, sebagai berikut:

وقال ربيعة والليث بن سعد وأبو حنيفة والأوزاعي واجبة على الموسر إلا الحاج بمنى. وقال محمد بن الحسن هي واجبة على المقيم بالأمصار والمشهور عن أبي حنيفة أنه إنما يوجبها على مقيم يملك نصابا

Artinya: "Dan berkata Rabi’ah, al-Laits bin Sa’ad, Abu Hanifah dan al-Auza’i, berkurban adalah wajib atas orang yang kaya kecuali jamaah haji di Mina. Berkata Muhammad bin al-Hasan bahwa kurban adalah wajib atas orang yang bermukim di kota-kota, yang masyhur dari Abu Hanifah bahwa beliau hanya mewajibkan kurban bagi orang mukim yang memiliki satu nishab."