Olahraga

Bagaimana Gelar Piala Thomas Indonesia Memicu Malaysia Membicarakan Bulutangkisnya?

Indonesia terakhir kali menjuarai Piala Thomas pada 1992.


Bagaimana Gelar Piala Thomas Indonesia Memicu Malaysia Membicarakan Bulutangkisnya?
Pelatih asal Indonesia, Flandy Limpele, saat memberi instruksi kepada pasangan ganda putra terbaik Malaysia, Aaron Chia/Soh Wooi Yik, di Kuala Lumpur, Malaysia, awal pekan ini. (TWITTER/BAM)

AKURAT.CO, Barangkali karena serumpun dan sama-sama menggandrungi bulutangkis, keberhasilan Indonesia menjuarai Piala Thomas 2020 berdampak terhadap pembicaraan Malaysia tentang bulutangkis mereka.

Juga karena sebenarnya Indonesia dan Malaysia sedang berada dalam situasi “mati suri” panjang dalam tiga atau dua dekade terakhir. Namun, Indonesia akhirnya berhasil memutus kutukan dengan merebut gelar juara pada 2021 setelah terakhir kali pada 2002.

Adapun Malaysia lebih lama lagi karena mereka terakhir kali menjuarai Piala Thomas ketika menjadi tuan rumah pada 1992. Ketika itu, Malaysia mengalahkan Indonesia di final dengan skor 3-2.

“Indonesia menunggu hampir dua dekade untuk memenangi gelar Piala Thomas ke-14 mereka. Pendukung di sini berharap Malaysia tidak harus menunggu lebih dari 30 tahun untuk kemenangan mereka,” tulis salah satu media Malaysia, New Strait Times.

Malaysia sendiri sudah menjuarai Piala Thomas sebanyak lima kali namun dengan selisih waktu yang cukup jauh. Gelar juara 1992 direbut ketika mereka sudah 25 tahun absen di podium utama sejak gelar terakhir pada 1967.

Pemain tunggal putra legendaris Malaysia yang turut dalam kejayaan 1992, Rashid Sidek, bahkan kembali mengenang keberhasilan 29 tahun lalu selepas Indonesia menjadi juara di tahun ini. Dalam wawancara dengan Astro Arena, Rashid mengakui bahwa Indonesia kompak dalam kejuaraan beregu.

“Tim Indonesia ini dari dulu sampai sekarang, mereka punya team work, team spirit-nya bagus. Memang kita bisa melihat para pemain mereka, ketika mereka bermain, yang tidak bermain pun terus mendukung, menjerit-jerit (di tribun),” kata Rashid.

“Mereka bermain sebagai tim lebih kuat dari pada perseorangan. Memang dari dulu, sampai sekarang pun terbukti kan.”  

Salah satu mantan pebulutangkis Malaysia yang tiga kali menjadi finalis Piala Thomas, Ong Ewe Hock, mengatakan bahwa yang terjadi dengan skuat negaranya adalah kisah lama yang berulang. Hock bahkan mengaku sudah mengatakan hal yang sama setiap kali Malaysia mengalami kegagalan.

“Saya tidak tahu mau bilang apa lagi. Saya sudah mengomentari (hal ini) selama sepuluh tahun terakhir, tetapi sepertinya tidak ada yang berubah,” kata Hock.[]