Ekonomi

Bagai Dua Sisi Koin, Antagonis dan Protagonisnya Fintech!


Bagai Dua Sisi Koin, Antagonis dan Protagonisnya Fintech!
Ilustrasi Financial Technology (Fintech) (AKURAT.CO)

AKURAT.CO Industri jasa keuangan saat ini memang sudah mengalami inovasi yang sangat signifikan, sejalan dengan berkembang pesatnya teknologi digital saat ini.

Dewasa kini, tampak inovasi jasa keuangan yang telah dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dan sedang menjadi perbincangan hangat saat ini adalah financial technology (fintech).

Menurut Financial Stability Board (FSB), fintech merupakan suatu bentuk inovasi finansial berbasis teknologi yang dapat menghasilkan model bisnis, aplikasi, proses atau produk baru dengan efek material terkait pada pasar keuangan, institusi, dan penyedia layanan keuangan.

Sedangkan menurut The National Digital Research Centre (NDRC), fintech merupakan innovation in financial services (inovasi pada sektor finansial).

Namun sayangnya, semakin berkembangnya Fintech di dunia banyak para oknum-oknum memanfaatkan Fintech sebagai alat kejahatan, seperti halnya di Indonesia. Pasalnya, berdasarkan data yang diperoleh dari Satgas Waspada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Indonesia menyebutkan jika investasi fintech ilegal sampai dengan November 2019 lalu sudah mencapai sebanyak 1.494 entitas.

Bagai Dua Sisi Koin, Antagonis dan Protagonisnya Fintech - Foto 1
Tongam L. Tobing.

Sedangkan total entitas fintech peer to peer lending ilegal yang sudah ditindak oleh Satgas Waspada Investasi sejak tahun 2018 hingga November 2019 sebanyak 1.898 entitas.

Melihat hal tersebut, Tongam L. Tobing selaku ketua Satgas Waspada Investasi mengajak semua anggota Satgas untuk semakin aktif bersama-sama melakukan pencegahan maraknya fintech peer to peer lending ilegal dan investasi ilegal untuk melindungi kepentingan masyarakat.

"Kami meminta agar seluruh elemen masyarakat Indonesia secara aktif bersama-sama dan saling bahu membahu melakukan pencegahan maraknya fintech peer to peer lending dan investasi ilegal demi melindungi semua kepentingan masyarakat Indonesia," ucapnya.

Dirinya menambahkan dalam kegiatan ilegal ini sangatlah berbahaya, sebab mereka memanfaatkan ketidakpahaman masyarakat untuk menipu dengan cara iming-iming pemberian imbal hasil yang sangat tinggi dan tidak wajar.

"Bahkan total kegiatan usaha yang diduga dilakukan tanpa izin dari otoritas yang berwenang dan berpotensi merugikan masyarakat yang telah dihentikan oleh Satgas Waspada Investasi selama tahun 2019 sebanyak 444 entitas, bahaya bukan," paparnya.

Kejamnya Fintech Ilegal

Bagai Dua Sisi Koin, Antagonis dan Protagonisnya Fintech - Foto 2
Penipuan. ISTIMEWA

Lembaga Bantuan Hukum atau LBH Jakarta membuka pos pengaduan bagi para peminjam uang dari aplikasi financial technology (fintech) peer to peer lending atau pinjaman online yang merasa dirugikan.

Bahkan beberapa waktu lalu, beredar kasus sopir taksi meninggal akibat terlilit utang pinjaman online. Dikabarkan berdasarkan investigasi awal bahwa adanya tekanan besar penggunaan aplikasi pinjaman online.

Diduga tekanan itu berlangsung dalam proses penagihan oleh jasa pinjaman online tersebut. Sejauh ini, LBH Jakarta baru menemukan dugaan tekanan berupa psikis dan mental, namun dia belum bisa merinci lebih lanjut bentuk dari tekanan psikis tersebut.

Selain itu, LBH Jakarta juga menemukan jumlah pinjaman pokok yang diajukan oleh Zulfadli yaitu Rp 500.000. 

Hingga saat ini LBH Jakarta masih mencari tahu nama jasa pinjaman online yang digunakan Zulfadly.

Lantas, Adakah Kasus Penipuan Fintech di Luar Negeri?

Tentu saja ada, nyatanya seorang Engineer Telekomunikasi Peng Jieze asal negeri Panda, China mendapati dirinya terjerat utang yang sedemikian dalam karena meminjam uang untuk kebutuhan konsumtif di fintech P2P tersebut.

Terlebih, ia memiliki hobi gonta-ganti smartphone baru dan sepatu kets mahal. Menurutnya hobi yang dijalankannya tidaklah berbahaya. Untuk membiaya hobinya awalnya dia meminjam 300 yuan atau setara US$58 (Rp 812 ribu) ke salah satu fintech lending di China. Kemudahan meminjam cukup dengan ponsel, jadi alasan ia meminjam ke fintech.

Akhirnya dia kecanduan dan meminjam ke 20 fintech. Namun tanpa disadari, utangnya ternyata sudah menggunung menjadi 100.00 yuan (Rp 201 juta).

"Tidak peduli berapa banyak uang yang saya hasilkan, saya tidak memiliki apa pun yang tersisa untuk diri sendiri dan harus menggunakan hampir semua penghasilan melunasi utang," kata Peng Jiezo seperti dikutip dari The Strait Times, Senin (16/12/2019). Ia menyebut perangkap utang ini sebagai "jurang maut".

Tahun ini, masalah baru muncul. Pemerintah China menutup ribuan fintech lending, sebagian besar yang ditutup merupakan tempat ia meminjam uang. Alhasil, ia harus meminta orang tuanya melunasi pinjaman.

Jika menyelami mendalam, Fintech bagaikan dua sisi koin. Satu sisi angka sering dianggap susah, satu sisi bila menemukan gambar dianggap senang. Dalam artian satu sisi nampak manis, satu sisi nampak garang.

Mengapa demikian? Fintech yang begitu dielu-elukan hingga terkadang terkesan didewakan untuk memenuhi kebutuhan transaksi keuangan, memang mampu memberikan kemudahan di era teknologi. Namun, nyatanya di sisi lain Fintech juga dapat menjadi momok hingga perangkap mematikan jika tak mampu menyikapi pemenuhan kebutuhan akan keuangan secara bijak.

Oleh karena itu, nampaknya para peminjam online perlu jeli dalam memilih perusahaan fintech. Terlebih, para peminjam harus mampu memahami segala risiko yang akan dihadapi jika ingin terlibat dalam transaksi digital ini.[]