News

Badan Kesehatan Afrika Selatan: Omicron Sebabkan Risiko Infeksi Ulang Covid-19 Naik 3 Kali Lipat

Varian Omicron mampu mengatasi sejumlah kekebalan dan langsung menjadi varian dominan di Afrika Selatan.


Badan Kesehatan Afrika Selatan: Omicron Sebabkan Risiko Infeksi Ulang Covid-19 Naik 3 Kali Lipat
Seorang perawat mempersiapkan suntikan vaksin Covid-19 di Dutywa, provinsi Cape Timur, Afrika Selatan pada Senin (29/11). (Foto: REUTERS) ()

AKURAT.CO Covid-19 varian baru menimbulkan risiko infeksi ulang 3 kali lipat lebih tinggi daripada varian Delta dan Beta yang saat ini dominan. Hal ini disampaikan sebuah badan kesehatan Afrika Selatan pada Kamis (2/12).

Dilansir dari Reuters, Pusat Pemodelan dan Analisis Epidemiologi Afrika Selatan (SACEMA) dan Institut Nasional Penyakit Menular (NICD) mengatakan kalau temuan terbaru ini memberikan bukti epidemiologis tentang kemampuan Omicron dalam menghindari kekebalan dari infeksi sebelumnya.

Sebelumnya di hari yang sama, ahli mikrobiologi Anne von Gottberg di NICD telah menggemakan pandangan serupa pada jumpa pers daring yang diselenggarakan oleh WHO. Ia mengatakan kalau Afrika Selatan mengalami lonjakan infeksi ulang Covid-19 karena Omicron.

Lonjakan tiba-tiba itu dilaporkan setiap hari di negara tersebut. Pada Kamis (2/12), pemerintah melaporkan 11.535 infeksi baru, naik dari 312 pada 10 hari yang lalu. Menurut NICD pada Rabu (1/12), varian Omicron mampu mengatasi sejumlah kekebalan dan langsung menjadi varian dominan di negara itu.

"Berdasarkan analisis data pengawasan rutin dari Afrika Selatan pada Maret 2020 hingga 27 November, profil risiko infeksi ulang Omicron secara substansial lebih tinggi daripada yang terkait dengan varian Beta dan Delta selama gelombang kedua dan ketiga," bunyi pernyataan NICD pada Kamis (2/12).

Lonjakan infeksi ulang alih-alih infeksi baru ini pun akan menjadi indikasi bahwa varian baru telah mengembangkan kemampuannya untuk menghindari kekebalan alami dari infeksi sebelumnya.

Menurut Juliet Pulliam, direktur SACEMA, pola Omicron kemungkinan akan terbentuk di semua provinsi Afrika Selatan pada awal hingga pertengahan Desember. Analisis ini didasarkan pada 2.796.982 orang dengan hasil tes positif setidaknya 90 hari sebelum 27 November, di mana 35.670 orang diduga terinfeksi ulang.[]