News

Awas Politik Identitas, Karyono: Sandiaga Dianggap Dekat Ulama, Penilaian Subjektif!

Awas Politik Identitas, Karyono: Sandiaga Dianggap Dekat Ulama, Penilaian Subjektif!
Pakar Politik dan Direktur Indonesian Public Institue (IPI) Karyono Wibowo di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (15/10/2019) (AKURAT.CO/Faqih Fathurrahman)

AKURAT.CO, Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute (IPI) Karyono Wibowo menilai gejala politik identitas akan kembali mewarnai dinamika politik 2024. Hal ini perlu diwaspadai karena kurang lebih satu dekade, jagat politik nasional diguncang oleh politik identitas yang diperparah dengan propaganda ala post-truth.

Karyono mengatakan, berbagai narasi yang menggiring opini publik ke dalam inkubator politik SARA bertebaran di ruang publik.

"Aroma politik identitas semakin menyengat belakangan ini ketika kelompok Islam politik yang tergabung dalam Ijtima Ulama mulai menampakkan arah dukungan kepada sejumlah tokoh yang digadang-gadang menjadi calon presiden 2024," terang Karyono, Selasa (21/12/2021).

baca juga:

Diketahui, baru-baru ini Forum Ijtima Ulama dan Pemuda Islam Indonesia (PII) se-Jawa Barat (Jabar) mendeklarasikan dukungan terhadap Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno, yang juga politisi Partai Gerindra, sebagai calon presiden pada Pemilu 2024 mendatang.

Politisasi agama seperti  terstruktur karena dukungan dilakukan di tiap daerah. Deklarasi juga telah dilakukan di Jakarta yang dihadiri sejumlah tokoh, diantaranya Dedi Tuan Guru, Habib Fahiri, Masri Ikoni, Dede Ruba'i Misbahul Alam, Moh. Ahbab Hasbi, Aziz Yanuar, Habib Fahmi Alatas, Habib M. Reza Assegaf, Kana Kurniawan, Afandi Ismail, Yosse Hayatullah, Wizdan Fauran, dan Fahmi Faisal.

Menurut Karyono, klaim penilaian bahwa ada tokoh yang dekat dengan ulama dan diangggap mewakili aspirasi umat merupakan pandangan terlalu subjektif dan tidak tepat.

"Klaim bahwa Sandiaga dianggap dekat ulama, pandangan tersebut terlalu subjektif, penilaiannya tidak berdasarkan realitas obyektif. Alasan dan pertimbangannya lebih menonjol kepentingan politik, kekuasan dan sentimen kelompok yang dibalut agama," ucap Karyono.

Menurut Karyono, pengalaman pada pemilu presiden 2014 dan 2019 harus menjadi pelajaran masyarakat terutama umat Islam agar tidak terjebak dalam tipu muslihat para petualang politik yang menggunakan agama sebagai jubah dan barang dagangan untuk mendapatkan keuntungan materi dan kekuasaan.

Faktanya, selama ini rakyat yang dirugikan, kerap menjadi korban dari konflik politik yang menggunakan isu SARA. Di era post-truth, dampak penggunaan isu SARA lebih berbahaya dari isu lainnya.