Tech

Awas! Penjahat Siber Manfaatkan Sekuel Star Wars untuk Distribusi Malware


Awas! Penjahat Siber Manfaatkan Sekuel Star Wars untuk Distribusi Malware
Sejumlah stormtrooper berbaris saat pemutaran perdana film Star Wars: The Rise of Skywalker di Los Angeles, California, Amerika Serikat, Senin (16/12/2019) waktu setempat. Film garapan sutradara JJ Abrams ini merupakan bab terakhir yang mengisahkan tentang Skywalker. Selain itu, film ini dijadwalkan tayang di Indonesia pada 18 Desember 2019. (REUTERS/Mario Anzuoni)

AKURAT.CO, Jutaan orang tidak menyadari bahwa film populer nyatanya kerap dimanfaatkan sebagai umpan oleh para pelaku kejahatan siber untuk mendistribusikan malware. Tak terkecuali kisah terbaru dari sekuel ternama 'Star Wars'.

Film yang menjadi sekuel terakhir dari trilogi ini telah menarik perhatian para pelaku kejahatan siber, bahkan sebelum pemutaran perdananya.

Perusahaan keamanan siber Kaspersky mengungkapkan bahwa fenomena ini terlihat dari banjirnya kehadiran situs web palsu dan file berbahaya dari film tersebut.

baca juga:

“Sudah menjadi hal yang wajar bagi para pelaku penipuan dan kejahatan siber untuk mencoba memanfaatkan topik-topik populer, dan 'Star Wars' menjadi kesempatan baik untuk skenario semacam itu di bulan ini," ujar peneliti keamanan Kaspersky, Tatiana Sidorina, dalam keterangan tertulis yang diterima AkuratIptek, Jumat (20/12/2019).

Kaspersky mencatat, terdapat 258.103 serangan malware bertemakan Star Wars yang berhasil dideteksi pada 2019. Meningkat 10 persen dari tahun sebelumnya, yakni 257.580.

Sementara untuk pengguna yang ditargetkan pada 2019 sekitar 37.772. Sedikit menurun dari target 2018 sebesar 50.196.

Pihaknya mengaku telah menemukan lebih dari 30 situs web palsu dan profil media sosial yang menyamar sebagai akun film resmi. Medium tersebut mengumpulkan data kartu kredit pengguna yang tidak waspada, dengan dalih syarat pendaftaran di portal.

Menurutnya, domain situs yang digunakan oleh para pelaku biasanya menyalin nama resmi film dan memberikan deskripsi menyeluruh serta konten pendukung lainnya.

"Praktik semacam itu disebut SEO hitam atau black SEO," ungkap Tania.