Tech

Awas Kecanduan Konten Pornografi, Berikut Dampak Buruknya

Awas Kecanduan Konten Pornografi, Berikut Dampak Buruknya
Ilustrasi lelaki sedang berselancar internet (pixabay.com/usa-reiseblogger)

AKURAT.CO, Konten pornografi di ruang digital terbilang tinggi dan berpotensi membuat banyak penggunanya terpapar. 

Padahal, konten pornografi sangat berbahaya bagi perkembangan otak dan kejiwaan. 

Maka, dibutuhkan peran berbagai pihak untuk memberantas konten pornografi di ruang digital.

baca juga:

Webinar ini menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Head of Partnership Division Siberkreasi Oktora Irahadi; Wakil Rektor I Universitas Dipa Makassar Komang Aryasa; dan Ketua Relawan TIK Pangkalpinang 2021 Ridho Akbar.

Menurut Ridho Akbar selaku Ketua Relawan TIK Pangkalpinang 2021 bahwa pornografi online sangat masif di Indonesia. 

Penyebarannya dilakukan lewat berbagai media sosial maupun layanan streaming online yang berbayar. 

Selain itu, ada pula layanan video gim online yang memuat konten pornografi.

“Masifnya penyebaran konten pornografi di ruang digital menjadi tantangan tersendiri. Selain itu, dorongan keingintahuan seksual di usia remaja membuat tantangannya kian berat,” ucap Ridho di webinar “Ancaman dan Bahaya Pornografi di Ruang Digital”, belum lama ini di Makassar, Sulawesi Selatan.

Berdasar data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika di bulan Maret 2022, konten pornografi menjadi konten yang paling banyak diadukan selain perjudian online, penipuan, pencemaran nama baik, dan radikalisme di ruang digital. 

Komang Aryasa selaku Wakil Rektor I Universitas Dipa Makassar menyarankan bahwa kebiasaan mengakses konten pornografi sebaiknya dihindari. 

Sebab, hal itu akan meninggalkan jejak digital yang sulit dihapuskan.

“Konten pornografi yang pernah diakses akan meninggalkan jejak digital yang negatif,” tutur Komang.

Agar tidak kecanduan mengakses konten pornografi, menurut Komang, perlu dicari hobi baru yang lebih positif dan meningkatkan produktivitas. 

Selain itu, Ia mengatakan bisa juga lewat pengaturan (setting) pada perangkat digital yang digunakan.

Ataupun bisa dilakukan lewat pemblokiran situs-situs yang memuat konten pornografi.

“Pornografi membuat otak kita rusak di bagian pre-frontal corteks, yaitu bagian otak yang membentuk kepribadian dan perilaku sosial. Dampaknya sama merusaknya yang diakibatkan narkoba,” ucap Komang.

Upaya pencegahan penyebaran konten pornografi, Oktora Irahadi selaku Head of Partnership Division Siberkreasi mengatakan selama ini terus dilakukan pemerintah, khususnya Kementerian Komunikasi dan Informatika. 

Pemerintah menggalakkan patroli siber untuk memblokir konten pornografi di ruang digital. 

Diakui memang penelusuran konten pornografi jauh lebih tinggi dibanding konten lainnya di internet.

“Patut diingat bahwa menyaksikan konten pornografi bisa menimbulkan masalah, seperti timbul risiko ketika mengakses konten pornografi di jam kerja, menghabiskan banyak uang untuk menikmati konten erotis, dan sebagainya,” kata Oktora.

Dengan hadirnya program Gerakan Nasional Literasi Digital oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif.[]