Rahmah

Awas Jangan Sampai Kufur Nikmat, Begini Cara Bersyukur Menurut Imam Ghazali

Awas Jangan Sampai Kufur Nikmat, Begini Cara Bersyukur Menurut Imam Ghazali
Ilustrasi Sahabat Nabi (ISTIMEWA)

AKURAT.CO  Memiliki kehidupan yang tentram dan damai tentu menjadi dambaan bagi setiap insan manusia. Ketentraman dalam hidup tentunya bisa dicapai ketika seorang mampu bersyukur atas segala sesuatu yang diberikan Allah SWT.

Namun pada kenyataannya, manusia selalu merasa kurang atas apa yang telah Allah SWT berikan. Bahkan tak jarang, mereka justru membanding-bandingkan kehidupannya dengan orang lain.

Ternyata, ulama filsuf Imam Al-Ghazali sudah mengingatkan manusia untuk selalu bersyukur ketika mendapatkan nikmat Allah SWT. Jika etika seseorang ketika mendapat ujian adalah bersabar, maka etika dalam menerima nikmat adalah dengan cara bersyukur.

baca juga:

Seperti dikutip NU Online, Imam Al-Ghazali menjelaskan rasa syukur kepada Allah di masyakarat sering kali direduksi pada ucapan tahmid kosong belaka yaitu “al-hamdu lillah” atau “as-syukru lillah.” Padahal selain ucapan tahmid dan syukur itu hendaknya dipahami sebagai pendayagunaan nikmat sesuai dengan ketentuan syariat.

Begitu juga dengan nikmat fisik, nikmat makanan, nikmat penciptaan hewan, tumbuhan, udara, air, api, dan alam semesta mesti disyukuri dengan memperlakukan sebagai sesuai dengan ketentuan Allah. Dengan demikian, kita perlu mengingat betul tujuan dasar penciptaan itu semua, yaitu penggunaan nikmat untuk penghambaan kepada Allah. 

Seperti mata digunakan untuk melihat apa, telinga untuk mendengar apa, mulut untuk berkata apa, tangan untuk berbuat apa serta kaki untuk apa dan menuju ke mana yang semua nikmat tersebut tidak boleh disalahgunakan. Karena penyalahgunaan atas nikmat itu disebut sebagai salah satu bentuk kufur nikmat.

ثم إنهم إن عرفوا نعمة ظنوا أن الشكر عليها أن يقول بلسانه الحمد لله الشكر لله ولم يعرفوا أن معنى الشكر أن يستعمل النعمة فى إتمام الحكمة التى أريدت بها وهى طاعة الله عز و جل 

Artinya, “Kalau mereka menyadar bahwa itu nikmat dan mereka mengira cara mensyukurinya cukup mengucapkan, ‘al-hamdu lillah’ atau ‘as-syukru lillah,’ tetapi mereka tidak mengetahui bahwa makna syukur adalah menggunakan nikmat tersebut dalam menyempurnakan hikmah untuk apa nikmat itu (diciptakan), yaitu ketaatan (dalam arti luas) kepada Allah,” (Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, [Beirut, Darul Fikr: 2015 M], juz IV).

Dalam Syarah Ihya-nya, Kitab Ithafus Sadatil Muttaqin, Sayyid Muhammad Az-Zabidi mengatakan, ucapan tahmid “al-hamdu lillah” atau “as-syukru lillah” penting. Tetapi dalam konteks mensyukuri nikmat, orang yang memuji Allah melalui tahmid harus memahami maknanya. (Az-Zabidi, Ithafus Sadatil Muttaqin, [Beirut, Muasasatut Tarikh Al-Arabi: 1994 M/1414 H], juz IX, halaman 129). 

Kesimpulannya, syukur itu bukan sekadar kerja lisan melalui tahmid kosong. Sebab syukur merupakan kesadaran atas hadirnya nikmat Allah SWT yang diekspresikan secara lisan dan perbuatan. 

Begitu juga Az-Zabidi menyebut syukur atas nikmat Allah merupakan cabang dari makrifatullah. (Az-Zabidi, 1994 M/1414 H: IX/129).

Semoga kita termasuk orang-orang yang pandai bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan, sekecil apapun itu. Wallahu A'lam Bishawab. []