News

Australia Diamuk Wabah COVID-19 Varian Delta India, Sydney Paling Mengkhawatirkan

Wabah COVID-19 terkait varian Delta telah berkembang di Sydney menjadi 110 kasus lalu menyebar ke Queensland serta Australia Barat.


Australia Diamuk Wabah COVID-19 Varian Delta India, Sydney Paling Mengkhawatirkan
Warga Sydney mengantre untuk tes di sebuah klinik lantatur di Pantai Bondi. (Foto: BBC) ()

AKURAT.CO, Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, sejumlah kasus COVID-19 berkembang pesat di berbagai bagian Australia. Pemerintah federal dan negara bagian pun akan mengadakan rapat darurat pada Senin (28/6).

Dilansir dari BBC, wabah COVID-19 terkait varian Delta telah berkembang di Sydney menjadi 110 kasus. Wabah kecil juga tercatat di negara bagian Northern Territory, Queensland, dan Australia Barat. Kasus di Queensland dan Australia Barat telah terlacak bermula dari wabah Sydney. Sementara itu, infeksi di Northern Territory merupakan jenis yang tidak terkait.

Meningkatnya infeksi COVID-19 pun mendorong lockdown di Sydney dan Darwin, serta pembatasan di 4 negara bagian. Dengan situasi yang paling mengkhawatirkan, 5 juta penduduk Sydney wajib tunduk pada perintah tinggal di rumah. Pemerintah negara bagian New South Wales (NSW) juga memperluas lockdown pada Minggu (27/6), mencakup seluruh Sydney Raya, Blue Montains, Central Coast, dan Wollongong. Banyak bisnis dan tempat umum diperintahkan tutup.

"Mengingat betapa menularnya jenis virus ini, kami mengantisipasi kalau dalam beberapa hari ke depan jumlah kasus kemungkinan akan melonjak, bahkan melampaui apa yang kita lihat hari ini. Warga memang telah diisolasi, tetapi sayangnya telah menularkan ke seluruh kontak rumah mereka," kata Perdana Menteri NSW Gladys Berejiklian pada Minggu (27/6).

Bendahara Josh Frydenberg pun mengakui kalau negaranya sedang mengalami 'masa kritis'.

"Saya kira kita memasuki fase baru pandemi ini dengan varian Delta yang lebih menular," ungkapnya.

Australia Diamuk Wabah COVID-19 Varian Delta India, Sydney Paling Mengkhawatirkan - Foto 1
hindustantimes.com

Tak hanya Sydney, Darwin dan 2 kota Northern Territory pun memberlakukan lockdown selama 48 jam pada Minggu (27/6) setelah dilaporkan 4 kasus baru. Sementara itu, di hari yang sama, maskapai Virgin Australia mengatakan telah menghubungi penumpang dan awak pada 5 penerbangan domestik baru-baru ini setelah seorang awak dinyatakan positif di Melbourne.

Tak ayal, wabah ini mendorong penutupan sejumlah perbatasan antarnegara bagian dan internasional. Selandia Baru telah menghentikan gelembung perjalanan bebas karantina dengan seluruh Australia hingga setidaknya Selasa (29/6).

Koridor perjalanan ini dibuka pada bulan April dan terkadang ditutup dengan wilayah Australia tertentu untuk waktu yang singkat jika terjadi wabah. Namun, ini pertama kalinya gelembung ditutup untuk seluruh Australia.

Baca Juga: Media Asing Soroti 350 Dokter Indonesia yang Tertular COVID-19 meski Telah Divaksin Sinovac

Negeri Kanguru telah mempertahankan tingkat penularan COVID-19 yang sangat rendah selama pandemi berkat kebijakan penutupan perbatasan, karantina yang ketat, serta sistem tes dan penelusuran yang cepat. Negara ini pun tak mencatat kematian akibat virus corona tahun ini.

Namun, varian COVID-19 yang lebih baru dan lebih menular akhirnya menjebol pertahanan negara dengan beberapa wabah kecil di banyak kota tahun ini. Menteri Kesehatan NSW Brad Hazzard pun menyebut varian Delta, yang pertama kali muncul di India, sebagai musuh yang sangat tangguh.

"Tak peduli langkah defensif apa yang kami ambil saat ini, virus tersebut tampaknya tahu cara menyerang balik," keluhnya.

Klaster Sydney pertama kali muncul 2 pekan lalu di Bondi, tepi pantai yang terkenal, kemudian menyebar dengan cepat ke seluruh kota. Kasus ini dikaitkan dengan sopir yang tak divaksinasi yang mengantar tamu kedatangan internasional dari bandara.

Tak ayal, wabah ini memicu kritik terhadap lambatnya program vaksinasi dari pemerintah federal. Sejauh ini, baru 5 persen dari populasi orang dewasa Australia telah divaksinasi lengkap dan sekitar 30 persen telah menerima dosis pertama. Menurut kritikus pemerintah, perkotaan tak perlu lockdown lagi jika mayoritas penduduk divaksinasi.[]