News

Aturan Makan 20 Menit, Komunitas Warteg: Kalau Tersedak Siapa yang Tangung Jawab?

Kebijakan makan 20 menit membahayakan lansia.


Aturan Makan 20 Menit, Komunitas Warteg: Kalau Tersedak Siapa yang Tangung Jawab?
Warga mengambil bungkusan makanan melalui layanan program 'Operasi Makan Gratis' di Warteg Nurul, kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (28/3/2020). Aksi Cepat Tanggap (ACT) berkolaborasi dengan warteg untuk menyajikan bantuan makanan gratis kepada masyarakat yang terdampak secara ekonomi di tengah wabah virus Corona. Tiap harinya tersedia 100 paket makanan gratis yang tersedia di beberapa lokasi warteg se-Jabodetabek. (AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo)

AKURAT.CO, Komunitas Warteg Nusantara (Kowantara) meminta pemerintah mempertimbangkan kembali aturan makan 20 menit di warung makan, termasuk warteg.

Ketua Komunitas Warteg Nusantara Mukroni mengatakan, kebijakan itu justru membahayakan sejumlah pelanggan, khususnya mereka yang sudah lanjut usia. Dia menuturkan, lansia tidak bisa dipaksa makan terburu-buru.

"Setiap orang dipatok 20 menit (makan di tempat), misalnya orang tua ini nanti kesedak gimana? Kalau kesedak nanti siapa yang menanggung akibatnya?" kata Mukroni ketika dihubungi AKURAT.CO, Sabtu (31/7/2021).

Tidak hanya membawa dampak buruk bagi pelanggan warteg, menurut Mukoroni kebijakan makan 20 menit juga berimbas pada pelayanan warteg.

Dia mengatakan ada beberapa menu di warteg yang tidak bisa dikerjakan terburu-buru, seperti pecel lele yang pengolahannya membutuhkan waktu lebih.

Mukroni menegaskan, menu pecel lele sendiri jika dikerjakan terburu-buru bisa bikin kecewa pelanggan karena bisa mengubah rasa..

"Menu warteg itu macam-macam, ada pecel lele, pecel lele itu kalau kita makan enaknya lele hidup, proses pembuatannya harus dimatikan dulu, terus digoreng sampai kering. Jangan sampai digoreng terus darahnya masih ada karena prosesnya cepat, tergesa-gesa malah justru tidak memuaskan pelanggan," ujarnya.

Mukroni melanjutkan, kalau menu yang disajikan tidak enak rasanya maka pelanggan ogah datang kembali.

"Kebijakan makan 20 menit ini memberatkan," imbuhnya.

Peraturan makan 20 menit diterapkan di sejumlah daerah yang menerapkan PPKM Level 4, salah satunya adalah provinsi DKI Jakarta. Daerah yang dipimpin Gubernur Anies Baswedan itu antusias mensosialisasikan peraturan ini, pengusaha  warteg yang melanggar akan dikenakan sanksi.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga mengerahkan petugas untuk mamantau rumah makan, termasuk warteg demi memastikan tidak ada pelanggaran PPKM Level 4.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria menuturkan, petugas yang dikerahkan merupakan Satgas Covid-19 dari tinggat RT/RW. Ariza -sapaan akrab Riza Patria- yakin aturan makan selama 20 menit berjalan lancar karena diawasi petugas.

"Pengawasannya di tempat-tempat restoran, maupun di rumah makan atau warung tegal sudah ada petugas, Satgas Covid di setiap wilayah masing-masing," kata Ariza di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (30/7/2021).

Ariza berpesan kepada pengunjung memanfaatkan waktu sebaik mungkin ketika berada di rumah makan. Dia meminta pengunjung tidak mengobrol saat makan.

“Kami minta waktu yang ada dimanfaatkan, khusus makan, tidak nongkrong dan kongko, apalagi sambil ngobrol,” ucapnya.

Meski demikian, Ariza menyarankan masyarakat melakukan take away alias membungkus makanan yang dipesan untuk dibawa pulang ke rumah.

“Sekalipun dibolehkan makan di warung, kami minta sebaiknya (makan) di rumah masing-masing atau di tempat kerja masing-masing bagi yang diperkenankan bekerja,” kata mantan Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra itu.[]