Lifestyle

Aturan Cuti Hamil 6 Bulan di RUU KIA, Bisa Membuat Perempuan Tidak Memiliki Kesempatan Kerja

Perempuan akan kehilangan pekerjaan dan kesempatan bekerja, karena aturan cuti hamil enam bulan di RUU KIA ini. Jika dilihat dari sudut pandang pengusaha


Aturan Cuti Hamil 6 Bulan di RUU KIA, Bisa Membuat Perempuan Tidak Memiliki Kesempatan Kerja
Ilustrasi bekerja di kantor (Pexels)

AKURAT.CO Rancangan undang-undang (RUU) Kesejahteraan Ibu dan Anak (KIA) kini tengah ramai dibicarakan.

Salah satu isinya adalah tentang cuti hamil selama 6 bulan dan keguguran 1,5 bulan

Konten Kreator TikTok sekaligus Mompreneur Tata Irianty, membagikan pendapat mengenai aturan cuti hamil selama enam, dari sisi pengusaha. 

baca juga:

Menurut pemilik akun TikTok @tatairianty ini, perempuan akan kehilangan pekerjaan dan kesempatan bekerja karena aturan ini. 

"Menurut saya, justru Kebijakan ini akan merugikan pekerja perempuan. Karena pengusaha akan mencari pekerja laki laki nggak mau ribet," ujar Tata melalui video di akun TikTok-nya, dikutip pada Rabu (29/6/2022).

"Maksudnya gimana nggak mau ribet, misalnya kalau peraturan ini sudah digetok, kita sebagai pekerja tahu seneng banget wah habis ini melahirkan dapat cuti enam bulan dan lain sebagainya, jangan salah habis ini pengusaha cari pengganti. Pikiran mereka gitu," jelasnya. 

@tatairianty sc:akuratco #opiniibuktata suara asli - Tata Irianty

Tata juga menambahkan, RUU KIA ini bisa menghalangi perempuan untuk mendapatkan pekerjaan.

"Kalau sampai kebijakan ini deal, kita akan melihat lowongan pekerja syaratnya mencari laki laki. Karena kalau dari sudut pandang pengusaha, pengusaha nggak mau rugi," katanya.

"Mana ada mafia atau cukong mempekerjakan seseorang tetapi cuti selam enam bulan terus dikasih gaji dan tidak dipecat setelahnya. Ini (pekerja perempuan setelah melahirkan) nggak mungkin lanjut, mereka akan cari pekerja lain. Ini merugikan mommy, karena nanti akan digantikan," tambahnya.

Seperti diketahui, isi RUU KIA yang sempat menjadi perbincanga, adalah tentang cuti hamil selama 6 bulan dan keguguran 1,5 bulan, serta tidak boleh diberhentikan dari pekerjaan.

Bukan hanya itu saja, ibu yang cuti hamil harus tetap memperoleh gaji dari jaminan sosial perusahaan maupun dana tanggung jawab sosial perusahaan.

Adapun dalam RUU KIA ini, ibu yang sedang cuti melahirkan dalam waktu tiga bulan pertama masa cuti, akan mendapat gaji penuh.

Sementara itu di bulan keempat, upah dibayarkan sebanyak 70 persen. 

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bakal membahas lebih lanjut RUU KIA ini untuk menjadi undang-undang.