Lifestyle

Atasi Kepanikan, Begini Cara Beritahu Anak Jika Positif Covid-19

Anak akan ikut panik bila melihat orang tuanya ketakutan


Atasi Kepanikan, Begini Cara Beritahu Anak Jika Positif Covid-19
Ilustrasi anak positif Covid-19

AKURAT.CO,  Angka infeksi Covid-19 pada anak meningkat. Bahkan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut, kematian anak-anak akibat Covid-19 di Indonesia tertinggi di dunia.

Menurut data resmi IDAI, hingga 15 Juni 2020, tercatat 3064 anak terkonfirmasi menderita Covid-19 pada anak 0-17 tahun, dimana 28 diantaranya meninggal dunia.

Berbeda dengan orang dewasa, anak kecil yang terkena Covid-19 biasanya tidak menyadari atau kurang paham dengan kondisi yang dialaminya.

Gejala Covid-19 pada anak-anak sangat bervariasi, mulai dari diare, hingga batuk dan pilek yang disertai demam hingga lebih dari 370 Celcius.

Bahkan sebagian besar anak tidak memiliki gejala sehingga sering tidak terdeteksi. Oleh sebab itu, orangtua harus selalu memperhatikan dan memantau kondisi si kecil.

Berikut gejala corona paling umum pada anak menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC): 

  • Demam atau kedinginan
  • Batuk
  • Hidung tersumbat atau hidung pilek
  • Sakit tenggorokan
  • Sesak napas atau kesulitan bernapas
  • Diare
  • Mual atau muntah
  • Sakit perut
  • Kelelahan
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Pada bayi di bawah 1 tahun juga bisa ditandai dengan kurangnya nafsu makan.

Lalu, apa yang harus dilakukan orang tua saat anak positif Covid-19?

Saat anak positif Covid-19 tentu membuat orang tua merasa sangat sedih. Terlebih lagi jika anak masih di bawah umur atau yang masih membutuhkan perhatian lebih dari orangtua.

Melansir dari About Kids Health, saat anak terinfeksi virus corona, hal utama yang wajib dilakukan oleh orang tua adalah membantu anak untuk tetap merasa aman.

Ingatlah, anak-anak akan takut saat orang tua panik. Jadi, ketika berbicara tentang virus corona, cobalah untuk tidak terlihat khawatir dan gunakan suara yang tenang. 

Beritahu anak bahwa dirinya terkena virus tersebut. Gunakan bahasa yang sederhana sesuai dengan usia mereka. 

Namun saat memberikan informasi, fokuskan pada hal-hal yang positif. Yakinkan si kecil kalau dirinya akan sembuh.

Tidak perlu menakut-nakuti anak dengan informasi yang bisa membuatnya cemas, misalnya ada banyak orang meninggal karena virus corona.

Anak yang positif Covid-19 biasanya akan menjalani isolasi mandiri di rumah. Pasalnya, gejala Covid-19 pada anak umumnya masih ringan, meski tetap ada yang kritis.

Kalau gejala sedang dengan komorbid maka harus dipantau di rumah sakit. 

Kamu tentu tidak bisa membiarkan anak, terutama yang masih dibawah 5 tahun, untuk menjalankan isolasi mandiri atau perawatan di rumah sakit sendirian.

Oleh sebab itu, di kecil membutuhkan orang dewasa untuk merawatnya. Saat isolasi mandiri, di rumah, si kecil dan orang yang merawatnya harus menghindari kontak dengan orang lain. 

Hal yang sama juga pada saat anak dirawat di rumah sakit. Pada pasien Covid-19 anak-anak yang masih butuh perhatian, salah satu orang tua biasanya akan diizinkan ikut menjaga di dalam ruangan rawat.

Namun, orangtua tidak boleh ke mana-mana dan menggunakan pakaian khusus.

Saat dirinya harus isoalsi mandiri, beritahu bahwa itu adalah salah satu cara agar dia bisa sembuh.

Namun, jangan pernah membuat janji palsu tentang berapa lama pandemi akan berlangsung atau kapan dirinya akan sembuh, karena segala sesuatunya berubah setiap hari.

Pastikan anak tidak merasa tertekan dengan informasi yang kamu berikan. Oleh sebab itu, kamu diwajibkan peka dengan reaksi anak, sekecil apapun itu.

Apabila kamu bukanlah orang yang menemaninya selama isolasi mandiri atau menemaninya di rumah sakit, selalu berkomunikasi lewat video call atau voice call.

Hal ini sangat dibutuhkan agar anak tidak merasa sendiri. Melansir dari laman covid19.go.id, ada protokol kesehatan yang harus diperhatikan, yaitu: 

  • Dalam pemeriksaan medis terhadap anak, petugas medis menjalankan protokol medis untuk anak. 
  • Petugas medis akan menanyakan kepada orang tua, pengasuh, wali atau pihak yang membawa anak tentang keadaan keluarga, pengasuhan, hingga keadaan rumah 
  • Apabila setelah menjalani pemeriksaan medis, anak ditetapkan sebagai suspek atau pasien dengan gejala ringan, ia harus menjalani prosedur isolasi mandiri tanpa ada risiko bagi anggota keluarga lainnya. Syaratnya, ada orang tua atau wali yang memiliki kapasitas menjalankan pengasuhan. Apabila memungkinkan, petugas medis merekomendasikan prosedur isolasi mandiri. 
  • Apabila orang tua atau wali tidak memungkinkan menjalani prosedur isolasi mandiri untuk anak di rumah, petugas medis merekomendasikan untuk menghubungi dinas yang menyelenggarakan urusan perlindungan anak setempat untuk memastikan anak memperoleh tempat untuk menjalani isolasi mandiri. 
  • Apabila anak tidak memiliki orang tua atau wali yang bertanggung jawab dan memiliki kapasitas mengasuh anak atau tidak memiliki tempat tinggal, petugas medis melalui kepala rumah sakit berkoordinasi dengan dinas yang menyelenggarakan urusan sosial untuk memastikan pengasuhan sementara sesuai peraturan.
  • Dalam hal anak yang telah menjalani pemeriksaan medis ditetapkan sebagai pasien anak dan harus menjalani prosedur perawatan dalam isolasi, petugas medis mengatur dukungan psikososial kepada anak dan melakukan komunikasi dengan orang tua atau wali terkait perkembangan kondisi anak dan memfasilitasi kunjungan (jika memungkinkan).[]