News

Intervensi Sambo, Surat Izin Bawa Senpi Yosua dan Eliezer Terbit Meski Tak Lengkap Syarat

Intervensi Sambo, Surat Izin Bawa Senpi Yosua dan Eliezer  Terbit Meski Tak Lengkap Syarat
Terdakwa Richard Eliezer Pudihang Lumiu atau Bharada E saat menghadiri sidang kasus pembunuhan berencana terhadap Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jalan Ampera Raya, Jakarta, Senin (31/10/2022). Dalam sidang ini jaksa penuntut umum (JPU) menghadirkan sebelas saksi yang dihadirkan terdiri kakak kandung Ferdy Sambo, Leonardo Sambo, asisten rumah tangga (ART), ajudan hingga sopir yang bekerja di rumah Sambo. AKURAT.CO/Sopian (Sopian)

AKURAT.CO Surat Izin Membawa dan Menggunakan Senjata Api (SIMSA) yang diperoleh Nofriansyah Yosua (Brigadir J) dan Richard Eliezer (Bharada E) ternyata tanpa mengikuti prosedur yang lengkap.

“Prosedurnya tidak lengkap, tidak ada tes psikologi, tidak ada pengantar satker, dan tidak ada surat keterangan dokter,” kata Kepala Urusan Logistik Pelayanan Masyarakat Polri Linggom Parasian Siahaan saat bersaksi sidang kasus pembunuhan Brigadir J di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Senin (28/11/2022). 

Penjelasan Linggom ini bermula ketika majelis hakim bertanya terkait peristiwa pembunuhan berencana terhadap Brigadir J.

baca juga:

"Apa yang Saudara ketahui dalam perkara ini?" tanya hakim Wahyu. 

"Saya yang mengeluarkan surat izin memegang dan menggunakan senjata api dari Eliezer dan almarhum Brigadir Yoshua," jawab Linggom.

Linggom menjelaskan, SIMSA yang dipegang kedua anak buah Ferdy Sambo itu diterbitkan pada 15 Desember 2021. Ia sebelumnya dipanggil oleh Kayanma Kombes Pol Hari Nugroho pada Desember 2021 dan diberi selembar kertas atas nama Brigadir Yosua dan Bharada Eliezer. 

“Bapak Kayanma perintahkan saya, ‘tolong kamu buatkan SIMSA-nya. Saya tunggu sekarang’,” ucap Linggom mengutip ucapan Hari.

Selanjutnya, Lingganom memerintahkan anggotanya untuk membuat SIMSA dan mengantar surat itu ke ruangan Kayanma.

Setelah selesai dibuat, ia menyerahkan kepada Hari. Namun, keesokan harinya, ia kembali dipanggil Hari untuk menyimpan kembali SIMSA tersebut karena prosedur yang tidak lengkap.

“Empat hari kemudian, saya ditelpon lagi sama Pak Kayanma agar menurunkan kembali surat senjata api tersebut. Saya antar ke ruangan beliau, saya serahkan ke Bapak Kayanma. Setelah Pak Kayanma terima, langsung Pak Kayanma berbicara kepada saya, ‘Barusan saya ditelpon Kadiv Propam Pak Sambo agar segera tanda tangan’, setelah itu saya serahkan,” ucap Linggom menjelaskan.

“Prosedurnya tidak lengkap ya?”

“Ya psikologi, keterangan satker dan keterangan dokter,” jawab Linggom.

Izin yang diajukan untuk Bharada E saat itu adalah jenis Glock dan HS untuk Brigadir Yosua.

Kendati demikian, Linggom mengaku tidak mengetahui jika keduanya adalah anggota Brimob. Sebab, di dokumen hanya tertulis aide de camp (ajudan) Kepala Divisi Propam Polri

“Meski mereka Brimob? Anda tahu?” tanya hakim lagi.

“Siap tidak tahu, itu ADC Kadiv Propam,” kata Linggom.

“Ketika mengajukan surat memegang senjata masih harus dibekali itu lagi? Surat keterangan satker dan apa?” cecar hakim. 

“Prosedur untuk mengeluarkan surat izin senjata api, itu wajib ada surat keterangan dari satker, kemudian surat keterangan lulus tes psikologi, kemudian surat keterangan sehat dari dokter,” jelas Linggom.[]