News

Asyik Nobar Bola, Seorang Pemuda Tewas Ditikam Gerombolan Geng Motor di Cikini

Andri tewas ditikam dan disabet senjata tajam gerombolan pemotor yang diperkirakan berjumlah 20 orang.


Asyik Nobar Bola, Seorang Pemuda Tewas Ditikam Gerombolan Geng Motor di Cikini
Korban Pembacokan (Humas Polsek Menteng)

AKURAT.CO, Malang nian nasib Andri Cahyadi (43). Niat warga yang tinggal di Jalan Raden Saleh 2 RT/RW 09/03 Kelurahan Cikini untuk nonton pertandingan sepak bola di pos securiti tak jauh dari rumahnya itu berakhir nahas. Saat sedang asyik nonton, segerombolan yang diduga geng motor datang menyerang. 

Serangan dadakan jam 04.00 WIB Sabtu pagi membuat cerita nonton bola tersebut berakhir tragis. Andri tewas ditikam dan disabet senjata tajam gerombolan pemotor yang diperkirakan berjumlah 20 orang itu. Andri tersungkur ke bumi dalam kondisi bersimbah darah. Sementara pembunuhnya langsung kabur bersama kelompok provokatifnya menggunakan sepeda motor. 

Kapolsek Menteng, Kompol Rohman Yongki membenarkan kejadian keji yang menewaskan Andri Cahyadi itu. 

Dia menjelaskan, peristiwa itu bermula saat Andri sedang menonton pertandingan sepak bola di pos sekuriti pukul 04.00 pagi tadi. Tiba-tiba saja, ia kedatangan rombongan tamu tak diundang menggunakan sepeda motor. Kejadian berdarah itu disaksikan langsung dua orang lain. 

"Mereka mengacung-acungkan celurit dan menyerang korban, sehingga korban mengalami luka sabetan celurit di paha kiri bagian atas, dan luka tusuk bagian perut," katanya. 

Kedua saksi seketika itu langsung melarikan Andri Cahyadi ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Namun, dalam perjalanan, Andri menghembuskan napas terakhirnya. 

"Pelaku langsung melarikan diri ke arah Jalan Raden Saleh 2, di pinggir kali. Kemudian korban dibawa kerumah sakit Cipto, saat di perjalanan, meninggal dunia," katanya. 

Saat ini, pihaknya sedang mendalami motif pembacokan berujung tewasnya Andri Cahyadi itu. Sementara para pelaku terus diburu. Dia berharap, perburuan para pelaku itu menuai hasil baik. Mereka, kata dia, harus mempertanggungjawabkan prilaku kejinya di hadapan hukum. 

Perbuatan pidana para pelaku itu tentu tak bisa diampuni. Sebab, teror itu dikhawatirkan menimbulkan trauma sosial. Karenanya, perburuan gerombolan kriminal itu harus bisa menangkap seluruh pelaku dan gerombolannya agar mereka tak terus menerus meresahkan masyarakat. 

"Maka dari itu kami tengah melakukan pengejaran terhadap sejumlah pelaku tersebut," pungkas Yongki.[]